Kematangan GIGI pada Usia Ke-15 - Kompas.com
Musik

Kematangan GIGI pada Usia Ke-15

Kompas.com - 05/04/2009, 02:42 WIB

Susi Ivvaty

Usia lima belas tahun yang matang, itulah gambaran yang pas untuk grup band GIGI, dengan awak Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdan (bas), dan Gusti Hendy (drum). Kuat musiknya, kompak formasinya, solid manajemennya, terbuka pikirannya, dan luas pergaulan bermusiknya.

Panggung perayaan ulang tahun GIGI ke-15 pada Selasa (31/3) di Ballroom Jakarta Theatre menjadi bukti kekuatan lagu-lagu grup band yang masih selalu dan terus latihan meski tidak akan pentas ini. Dengan iringan dan aransemen dari Tohpati and String Ensemble, lagu-lagu GIGI terdengar unik dinyanyikan 14 artis, mulai dari Afgan hingga Glenn Fredly.

Aransemen Tohpati membuat lagu ”Jomblo” menjadi berasa rock n roll saat dinyanyikan Tria, vokalis The Changcuters, dan lagu ”Andai” terdengar sangat pop begitu didendangkan Bunga Citra Lestari. ”Hanya Kaka Slank dan Andi /rif yang pakai aransemen GIGI,” kata Armand.

Kaka menunjukkan kelasnya saat membawakan lagu ”Hinakah” dengan bertelanjang dada. Vokal yang prima dipadu gaya panggung yang memukau dan interaktif. ”Saya tidak pernah nyanyi tanpa Abdee dan lainnya (awak Slank). Tapi, untuk GIGI, saya nyanyi,” kata Kaka. Slank, grup seangkatan GIGI, memang memberi pengaruh kuat pada musik dan pergaulan GIGI, terutama pada awal grup ini berdiri. GIGI kerap nongkrong di Gang Potlot, markas Slank.

Album baru

Perayaan ultah ke -15 GIGI yang jatuh pada 22 Maret 2009 dan dipromotori langsung oleh manajemen GIGI, POS Entertainment, dengan produser eksekutif Dhani Widjanarko atau Dhani Pette, ini juga sekaligus menjadi ajang peluncuran buku GIGI dan unjuk lagu-lagu baru.

Lima lagu, yakni ”Sumpah Mati”, ”Harga Kesetiaan”, ”Restu Cinta”, ”My Facebook”, dan ”Ya.. ya.. ya..”, yang ada di album terbaru dengan ”self tittle GIGI” (akan diluncurkan 11 April ini) menjadi gong acara. Dan lagi-lagi, GIGI menunjukkan kelasnya. Melodi lagu unik, aransemen musik pop rock khas GIGI, lirik dengan tema variatif, plus aksi panggung yang gereget serta vokal Armand yang berkarakter menjadi bukti.

Lagu ”Restu Cinta” yang dibubuhi aransemen string oleh musisi Addie MS mengingatkan pada gebrakan GIGI, juga Dewa dan Slank yang pernah memadukan konsep rock dan orkestra saat pentas bersama Erwin Gutawa pada November 2000. Lagu ”Ya.. ya.. ya..”, yang bahkan sudah beredar bajakannya, memiliki melodi sangat kuat.

”Lagu itu ciptaan Budjana. Awalnya gitaran saja, main rhythm lalu melodi, didengar ramai-ramai. Wah, ini lagu antik. Lalu aku mulai bikin liriknya,” terang Armand.

Proses membikin lagu dengan workshop dan jamming memang dilakukan GIGI sejak awal. Budjana main rhythm, lalu masuk melodi, baru lirik. Saat aransemen, perubahan struktur lagu bisa terjadi, misalnya tadinya bagian refrain muncul setelah lagu 1 (satu bait pertama), lalu diubah menjadi setelah lagu 2.

Namun, lima tahun lalu, GIGI merasa jenuh dan ingin mencari cara lain dalam penciptaan lagu. Titik baliknya ketika membuat album original soundtrack film Brownies. Setiap awak membikin dua atau tiga lagu jadi lalu dibawa ke studio untuk kemudian diaransemen bersama-sama. Bisa juga dalam lagu itu lirik belum ada, lalu Armand memasukkan lirik. Dari sekian lagu, dipilih lagu-lagu yang dinilai terbaik.

”Sekarang kerja kami begitu, termasuk untuk pembuatan lagu di album terbaru kami. Tetapi, tetap ada lagu yang tercipta lewat jamming, seperti ’Ya.. ya.. ya..’, itu setengahnya jamming,” tutur Armand.

Musik GIGI yang pop terbentuk dari berbagai kecenderungan musik lain, seperti rock ataupun jazz. Dalam pandangan penulis musik Denny Sakrie, GIGI pintar menakar pengaruh rock dan jazz itu dengan pas sehingga tidak dominan. ”Pada album pertama, Angan, misalnya, terasa eksplorasi gitar Budjana yang nge-jazz, juga unsur etnis, tetapi dia tak mencoba dominan,” katanya.

Terbuka dan bergaul

Sejak awal, para awak GIGI selalu memperluas pergaulan bermusik, dan ini sangat berpengaruh pada lagu dan musik yang mereka ciptakan. ”Musik itu pun buat pergaulan dan makanya kami bergaul, melihat trend,” sahut Thomas.

Sambung Armand, ”Yang saya salut sama teman-teman GIGI karena semua terbuka. Kami tidak pernah merasa pernah melalui tahap tertentu dalam bermusik. Setiap ada grup band baru, kami lihat dan cermati. Pas muncul Padi, Peterpan, Nidji, Ungu, dan lainnya, saya telepon lebih dulu, lalu terjadi diskusi.”

”Kami enggak menutup diri dari musik. Kalau sampai terpikir, ah…. kami sudah lewati hal itu atau masa itu, justru berarti kami sudah mati,” lanjut Armand lagi.

Usia 15 tahun, kata Thomas, kalau diibaratkan dengan usia manusia, sebenarnya sedang pada masa sok tahu. Bagi sebuah band, bisa saja muncul perasaan sudah berpengalaman. ”Mudah-mudahan tetap berkarya dan tidak sombong,” kata dia.

Berbagai konflik yang terjadi selama 15 tahun, menurut Budjana, justru menjadi momen untuk belajar. ”Sinergi GIGI dengan manajemen jadi sangat bagus. Banyak ide antara manajemen dan GIGI yang seiring sejalan,” kata dia.

Karena itu, wajar jika semenjak album Jalan Kebenaran, GIGI melepaskan diri dari Sony Music Indonesia dan benar-benar menjadi band indie. Dukungan manajemen yang solid dengan Dhani Pette sebagai pentolannya makin memandirikan GIGI.


Editor

Close Ads X