BSA: Polisi Lebih Baik Razia ke Pabrik daripada Warnet - Kompas.com

BSA: Polisi Lebih Baik Razia ke Pabrik daripada Warnet

Kompas.com - 30/06/2009, 18:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perwakilan Bussiness Software Alliance (BSA) di Indonesia, Donny Syeoputra, menilai tindakan oknum aparat kepolisian yang sering menjadikan warnet-warnet sebagai sasaran razia software bajakan tidaklah tepat. Menurutnya, untuk mempercepat pemberantasan software bajakan, razia lebih diarahkan ke perusahaan-perusahaan dan industri atau pabrik-pabrik besar. 

"Kalau ada kasus polisi sering meminta bantuan penyidikan kepada pengusaha, tetapi setelah kasus selesai mereka akan dirazia seenaknya, sedangkan untuk corporate, polisi tidak melakukan hal yang sama, padahal banyak juga perusahaan yang menggunakan software bajakan," sesalnya saat konferensi pers peluncuran program War-X Go Legal di Jakarta, Selasa (30/6).

Ia mengakui, hampir semua warnet di Indonesia tidak menggunakan software legal sepenuhnya atau sering disebut warnet bodong. Namun, hal tersebut bukan karena mereka tidak mau menggunakan software legal, tetapi tidak memahami bagaimana mengimplementasikan software legal dalam bisnisnya.

"Dibanding pengusaha besar, pengusaha warnet mempunyai tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk menggunakan software legal. Namun, minimnya pengetahuan dan sosialisasi cara mendapat software legal membuat pengusaha warnet masih menggunakan software bajakan," ujar Donny.

Dibanding corporate, katanya, lebih banyak pengusaha warnet yang menanyakan bagaimana cara mendapat software legal. Kurangnya sosialisasi dari perusahaan software dinilainya menjadi penyebab pengusaha warnet tidak mengetahui cara mendapat software legal.

"Mereka juga mempunyai ketakutan kalau software legal itu mahal, padahal kalau mereka membuka www.legos.com, di sana ada informasi bagaimana cara mendapat software murah khusus untuk warnet," ujarnya.

Alasan lain mengapa banyak warnet bodong adalah, pengusaha warnet berada dalam keadaan yang dilematis, pasalnya tak jarang justru pelangganlah yang menginstal software bajakan. "Saat tidak menemukan software yang dicari, banyak pelanggan warnet yang menginstalasi secara ilegal. Jelas itu bukan salah pemilik warnet," tutur Donny.

Sebagai informasi, berdasarkan survei yang dilakukan BSA dan Incoorporate Data Service (IDC), sepanjang tahun 2008, dari 100 negara yang survei, Indonesia berada pada urutan ke-12, tingkat pengguna software bajakan di Indonesia mencapai 85 persen. Total kerugian yang diderita pengusaha software akibat pembajakan tersebut mencapai 544 juta dollar Amerika Serikat.


Editor

Close Ads X