Rudy Margono: Perusahaan Properti Harus Inovatif dan Kreatif

Kompas.com - 08/12/2009, 13:34 WIB
Editorksp

KOMPAS.com - Gapuraprima Group adalah perusahaan properti terkemuka di Indonesia yang multisegmen dan multiproduk. Berawal dari membangun perumahan real-estate dan rumah sederhana, Gapuraprima kini tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan properti yang membangun apartemen, gedung perkantoran, mal, hotel, dengan segala fasilitasnya.  Berbagai produk properti Gapuraprima tersebar di Jabodetabek dan sejumlah kota lainnya di Indonesia, mulai untuk segmen menengah bawah, menengah, sampai segmen menengah atas.

Rudy Margono, anak bungsu dari lima bersaudara, adalah putra mahkota keluarga Gunarso Susanto Margono, pendiri perusahaan properti Gapuraprima. Setelah lulus SMA di Los Angeles, Amerika Serikat, Rudy kelahiran Jakarta, 8 Mei 1970 ini melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Tarumanegara Jakarta (1989-1992). Sejak di bangku kuliah, Rudy sudah bekerja, mengelola properti perusahaan keluarga Margono di sejumlah kota. Rudy meraih gelar MBA dari Aspen University, Colorado, Amerika Serikat. Di tangan Rudy-lah, Gapuraprima Group makin berkibar.

Berikut petikan wawancara khusus Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Presiden Direktur Gapuraprima Group, Rudy Margono di Belezza Shopping Arcade, Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (8/12) pagi

Pada awalnya, Gapuraprima Group membangun perumahan, kini ikut membangun apartemen, gedung perkantoran, mal dan hotel. Apa yang membuat Gapuraprima melakukan diversifikasi usaha?
Gapuraprima Group memang unik karena produk-produk properti kami multisegmen, dari rumah RSS, BTN sampai mal dan apartemen mewah, dari waterpark sampai resor di pantai. Ketika tahun 1998 terjadi krisis ekonomi yang berpengaruh pada usaha properti, kami harus bertahan dengan melakukan diversifikasi usaha, yaitu membangun lebih banyak rumah sangat sederhana (RSS). Kami melihat kebutuhan akan rumah tetap ada, walaupun terjadi krisis ekonomi. Sekarang, setelah kondisi ekonomi pulih, kami melihat tren properti. Kami ini pedagang. Jadi apa yang laris dijual, ya itu yang kami bangun. Setelah Gapuraprima go public tahun 2007, kami membangun apartemen, mal, gedung perkantoran, dan hotel dengan segala fasilitasnya. Salah satu pemegang saham perusahaan ini adalah Ahmed Fouad Abdel, WN Kuwait. Ke depan, kami ingin Gapuraprima menjadi pengembang papan atas yang kompetitif.  Perusahaan properti tak ada bedanya dengan perusahaan mobil. Kami mesti inovatif dan kreatif membangun produk baru. Perusahaan mesti hidup terus dan mengembangkan usaha. Properti ada siklus. Setiap produk ada tren. Pengusaha harus bisa survive dalam kondisi kritis sekalipun.
 
Gapuraprima tidak memiliki perumahan dengan lahan skala luas. Mengapa?  
Membangun apartemen, gedung perkantoran, mal, dan hotel, adalah langkah diversifikasi usaha. Perusahaan kami unik. Kami tidak memiliki lahan luas seperti grup-grup properti Ciputra misalnya. Kami menghindari lahan tidur. Setelah lahan kami habis, tentunya perusahaan ini harus tetap beroperasi. Seribuan karyawan Gapuraprima harus tetap bekerja. Mereka dapat beralih bekerja di sport club, hotel, mal, apartemen, yang kami bangun.

Apakah Gapuraprima tetap fokus membangun real estate?

Ya pasti. Kami sukses membangun kawasan perumahan di berbagai kota di Indonesia setelah melalui proses waktu yang cukup panjang. Di setiap proyek real-estate yang kami bangun, selalu dilengkapi dengan sport-club. Di Cilegon, Banten, kami punya Kompleks Metro Cilegon, kawasan perumahan terbesar di Cilegon dengan lahan seluas 140 hektar. Kami sudah membangun 3.000 rumah di atas lahan 40 hektar, dan kami masih punya lahan 100 hektar lagi. Perumahan ini sudah menjadi ikon Kota Cilegon karena fasilitasnya yang lengkap. Kami sedang merancang pembangunan mal dan tempat makan di Metro Cilegon, yang dikelilingi kawasan industri dan pelabuhan internasional. Di Depok, kami membangun 3.000 unit rumah di Bukit Rivaria Sawangan di lahan seluas 30 hektar. Kami juga membangun Depok Maharaja di lahan 47 hektar, dilengkapi pusat bisnis, mal dan kolam renang di Sawangan. Ini untuk mengantisipasi jalan tol Antasari-Cinere yang segera dibangun. Di Bogor, kami punya Bukit Cimanggu City dengan lahan seluas 145 hektar. Saat ini sudah dibangun 5.000 unit rumah. Tahap kedua, kami mengembangkan green property untuk kelas menengah dan menengah atas. Di Bekasi, kami memiliki  Taman Kota Bekasi yang harganya mulai Rp 600 juta.

Juga tetap membangun rumah-rumah sederhana?
Kami tetap peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Di Bukit Cimanggu City Bogor misalnya, kami juga membangun rumah-rumah sederhana untuk masyarakat menengah bawah di atas lahan seluas 25 hektar. Di Bekasi, kami membangun rumah-rumah tipe 42-an di Jatiwaringin Garden seharga Rp 200-an juta, dan juga rumah sederhana di Taman Raya Bekasi seluas 15 hektar dengan tipe 21 m2 sampai 45 m2. Di Cilegon, kami membangun 1.500 unit rumah sederhana di Taman Raya Cilegon di lahan seluas 15 hektar. Di Bogor, juga ada Taman Raya Citayam seluas 15 ha. Di Tangerang, kami membangun Taman Raya Rajeg seluas 40 hektar. Ini semua berjalan cukup bagus. Selain di Bodetabek, kami juga membangun rumah-rumah sederhana di Solo, Cilacap, Cirebon, dan Cianjur.

Tidak semua produk properti Gapuraprima berjalan sesuai harapan. Bagaimana Anda menyiasatinya?  
Kami akui memang dari sekian banyak produk properti yang kami bangun, tidak semuanya sesuai harapan, namun kami akan tetap fight sampai berhasil. Setiap pengusaha akan mengalami up and down. Mal di bawah Apartemen Serpong Town Square yang kini berubah menjadi CBD Serpong, kami akui, tidak efisien lagi. Karena itu kami akan melakukan konversi menjadi Hotel Marcopolo yang dilengkapi dengan fasilitas waterpark.

Komentar Anda tentang bisnis properti pada tahun-tahun mendatang?
Saya optimistis bisnis properti akan terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang. Kenaikan harga properti tidak mungkin dikalahkan oleh pendapatan. Karena itu mereka yang belum punya rumah, harus mengusahakan memiliki rumah sendiri karena harga rumah makin tinggi. Kebutuhan akan rumah tetap tinggi. Demikian juga kebutuhan akan apartemen. Kami memiliki apartemen The Belezza di Permata Hijau, apartemen The Bellagio Residence dan Bellagio Mansion di Mega Kuningan, apartemen Kebagusan City di Kebagusan. Sebagai pengusaha properti, kami berharap pemerintah segera mengizinkan orang asing memiliki apartemen di Indonesia. Orang Indonesia saja boleh memiliki apartemen di luar negeri, mengapa kita tidak mengizinkan orang asing memiliki apartemen di sini? Kalau orang asing dilarang memiliki properti, ini suatu kebodohan. Harga properti di Jakarta paling murah di dunia. Dan harga properti di sini tidak pernah turun. (Robert Adhi Ksp)


 
 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X