Siaga Bencana

Pendeteksi Gempa dan Tsunami Tak Aktif

Kompas.com - 11/03/2011, 00:05 WIB
Editoryuli

PADANG, KOMPAS.com — Sistem utama peringatan dini gempa bumi dan tsunami di Sumatera Barat yang dipusatkan di Kota Padang tidak aktif untuk masa setidaknya selama satu bulan mendatang.

Hal itu menyusul mulai dirobohkannya gedung Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana Sumatera Barat di sisi barat kantor Pemprov Sumbar sejak pertengahan bulan lalu.

Sejumlah pekerja pada Kamis (10/3/2011) tampak terus bekerja membongkar bangunan beton dua lantai itu dengan perkakas manual. Sebelumnya, pada bangunan tersebut terdapat seperangkat alat pantau info gempa di Indonesia dari BMKG dan dunia. 

Selain itu, juga pendeteksi keadaan paras laut di kawasan pantai, pengukur percepatan gempa, sistem komunikasi darurat, dan sistem manajemen bencana tanggap darurat yang di antaranya berupa bantuan peralatan dari Perancis.

Dampak dari tidak aktifnya sistem utama itu ialah, jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam dalam periode satu bulan ke depan, relatif tidak akan ada informasi cepat yang bisa disampaikan kepada masyarakat, terutama yang terkait dengan bencana alam di Sumbar dan dampak ikutannya.

Koordinator Manajer Pusdalops Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward, mengatakan, pembongkaran gedung itu sudah direncanakan karena termasuk salah satu bangunan yang rusak berat seusai dihajar gempa bumi pada 30 September 2009.

Masa kontrak perusahaan pemenang tender untuk proyek pembongkaran itu, kata Ade, juga telah berakhir sejak 1 November 2010 lalu.

Namun, imbuh Ade, pemerintah masih terus meminta agar bangunan itu jangan dibongkar karena masih dibutuhkan, apalagi setelah tsunami menggelontor sebagian Kabupaten Kepulauan Mentawai pada 25 Oktober 2010 lalu.

"Kontraktor pembongkaran juga sudah cukup memberikan toleransi karena semakin lama dilakukan penundaan, maka bebannya juga akan semakin berat, dan kami memang sudah tidak punya alasan lagi untuk menunda pembongkaran itu," ujar Ade.

Ia menambahkan, khusus untuk sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami Sumbar, saat ini langsung ditangani BMKG di Jakarta sebagai sistem cadangan. "Kalau untuk komunikasi suara dan data darurat, kami bisa gunakan communication mobile di Padang," ujar Ade.

Adapun untuk menunggu sampai gedung baru di kawasan By Pass, Kota Padang, dibangun, pihaknya akan mendatangkan lima kontainer sebagai kantor darurat.

Kontainer yang baru bisa datang dan dipergunakan dalam sebulan ke depan itu akan dipakai hingga gedung baru usai dibangun pada 2012 mendatang. "Kami upayakan agar tanggung jawab kami pada masyarakat tetap berjalan," kata Ade.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.