PERDAGANGAN BILATERAL

China Meluncur, RI Heboh "Wikileaks"

Kompas.com - 13/04/2011, 04:38 WIB
Editor

SIMON SARAGIH

Selama 32 tahun pengusaha kita dimanjakan di bawah rezim Orde Baru. Hingga di era reformasi sekarang, pengusaha kita tetap seperti bayi yang harus dilindungi ibunya, he-he-he....” Demikian celetukan pengamat ekonomi politik Indonesia, Christianto Wibisono, yang sedang berada di Hainan, China, Selasa (12/4).

Dia berkomentar soal keterkejutan sebagian orang di Indonesia, yang selama ini turut mengagumi kemajuan ekonomi China, tetapi menjerit setelah tersengat persaingan dahsyat dari China.

Lalu pengamat politik Dewi Fortuna Anwar mengingatkan, janganlah kekalahan bersaing untuk sebagian produk itu menjadi dasar untuk melahirkan kebijakan yang keliru. Dia mengatakan, harus diamati secara saksama, apakah persaingan masih bisa ditingkatkan. Dia juga melihat, konsumen Indonesia toh menikmati keberadaan produk-produk China yang memang berharga murah.

Namun, muncul pertanyaan, bagaimana bisa bersaing jika pengiriman barang ke Padang dari Pulau Jawa saja lebih mahal ketimbang pengiriman barang ke Singapura? Ini adalah fakta berdasarkan penelitian Bank Dunia.

Jika memang kalah bersaing, apakah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu harus menegosiasikan ulang perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA)? Indonesia turut serta dalam ACFTA bersama lima negara ASEAN lain dan berlaku mulai 1 Januari 2010.

Negosiasi ulang hanya akan mempermalukan RI, bukan saja di Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA), melainkan juga di seluruh dunia. Paling-paling yang bisa dilakukan adalah pembahasan tentang produk-produk yang terpukul parah karena ACFTA memiliki klausul soal itu dan China bersedia memberikan bantuan.

Prahara demi prahara

Walau sekadar pembahasan, menyangkut produk-produk yang terpukul semata, tetap saja menunjukkan RI memang bukan kampiun dalam perdagangan. Sebenarnya sangat mengherankan jika Indonesia masih mengeluh.

Sejak 1978, dimulai dari reformasi kecil-kecilan di sektor pertanian, liberalisasi investasi, kemudian pembangunan infrastruktur kaliber dunia, China menjadi kekuatan ekonomi nomor dua terbesar di dunia setelah AS.

Ibaratnya China meluncur dalam 34 tahun terakhir dari negara paria menjadi panggung ekonomi dunia. Saat bersamaan, dalam periode sekian lama, setelah era almarhum mantan Presiden Soeharto, Indonesia disibukkan dengan hiruk-pikuk politik, power sharing, pergantian kabinet, pemilu serangan fajar, skandal Bulog, skandal Bank Bali, skandal pembobolan BNI, skandal Laksamana Sukardi, kasus hukum Akbar Tandjung di era Presiden Megawati Soekarnoputri, hingga terakhir heboh Wikileaks. Bisakah pemerintah dengan kehebohan itu memiliki waktu untuk memikirkan strategi bersaing?



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X