Berkaca dari Kasus Supriono yang Bikin Heboh

Kompas.com - 21/06/2011, 13:26 WIB

KOMPAS.com — Dunia maya khususnya pengguna sosial media Twitter kemarin malam (20/6/2011) dihebohkan dengan pemulung yang naik kereta rel listrik atau KRL sambil menggendong jenazah anaknya yang akan dikubur. Berita yang di-posting di Kompasiana tersebut sempat beredar melalui Black Berry Messenger  dan Twitter karena seolah-olah baru terjadi tahun ini. Padahal, belakangan diketahui bahwa itu berita tahun 2005 dan merupakan copy paste artikel yang berasal dari sumber lain.

 

Sejumlah kaum selebriti, seperti penyanyi Shanty, Dewi Lestari (penulis buku), dan Joko Anwar (Sutradara), membagikan link tersebut melalui akun Twitter pribadi miliknya. Mungkin kaum selebriti ini tergugah, terutama Shanty yang menyampaikan rasa simpatinya secara langsung seperti berikut:

 

“Kl memang benar itu cerita lama,sgt disayangkan kita tdk bs lg memberikan bantuan krn kejadiannya sdh lewat.. Tp bagaimanapun..tetap ..

 

..Tdk bisa dipungkiri bhw itu kejadian nyata.pernah dan mungkin akan terjadi lagi di negri kita.yg mkn akan dialami oleh supriono2 lainnya”

Keprihatinan akan kasus Supriono ini akhirnya terjawab oleh tweet yang di-posting seorang penulis buku selfpublishing Jed Revolutia. Melalui akun Twitter-nya, ia memberikan konfirmasi bahwa berita tersebut adalah berita tahun 2005 yang di-posting majalah Tempo Online (http://bit.ly/mFiLNE) kemudian di-copy paste di blog Kompasiana. Menjadi seolah-olah baru terjadi tahun ini. Pernyataan Jed kemudian digenapi oleh Goenawan Mohamad (wartawan senior Tempo) melalui akun Twitter-nya dengan me-retweet pernyataan-pernyataan Jed.

 

Goenawan Mohamad juga me-retweet posting-an seorang jurnalis yang menyatakan bahwa tahun 2005 Kapolsek Tebet diberhentikan karena kasus tersebut. Ia juga me-retweet posting-an seorang pengguna Twitter yang memberi kabar bahwa Supriono kini telah menjadi juragan mi setelah pemberitaan tersebut merebak dan banyak sumbangan mengalir kepadanya.

 

Penanggung jawab Kompasiana secara resmi telah menghapus postingan dari kompasianer berinisial J tersebut karena tidak sesuai dengan aturan main yang ditetapkan. Copy paste secara membabi buta tanpa menyebut sumber referensi di jejaring blog tersebut tidak dibenarkan. Namun, perbincangan seputar Supriono masih beredar di Twitter hingga pukul 08.00 WIB hari ini.

 

Ada hal yang perlu diketahui warga seputar citizen journalism Kompasiana yang disediakan KOMPAS.com ini. Kompasiana adalah citizen journalism yang dikelola KOMPAS.com, maka yang menulis di Kompasiana bukan jurnalis KOMPAS.com, melainkan warga. Warga memang memiliki hak untuk memberitakan apa pun di portal ini, apalagi jika menyangkut hajat hidup orang banyak, karena terkadang laporan warga pun ditindaklanjuti oleh jurnalis KOMPAS.com. Namun, ada baiknya warga juga mengerti cara membagikan informasi terutama jika terkait berita (reportase).

 

Jika memang berita diliput atau ditulis oleh Anda sendiri, jangan lupa mencantumkan unsur 5 W + 1 H (Who, What, Where, When, Why), dan How. Minimal cantumkan Siapa, Apa, Di mana, Kapan, dan Mengapa kejadian terjadi lalu sampaikan kejadian tersebut secara berurutan (kronologis).

 

Namun, jika Anda hanya copy-paste tulisan lain dengan maksud mengingatkan kembali atau menggugah nurani pembaca, Anda wajib menuliskan sumber tulisan Anda dengan lengkap dan benar, seperti link tulisan, nama penulis, dan tanggal tulisan tersebut pertama kali dipublikasikan.

 

Menjadi warga yang bertanggung jawab akan membantu warga lainnya mendapatkan informasi yang lengkap dan bermanfaat. Niat tulus Anda menggugah nurani orang bisa berakibat fatal jika tidak diolah dengan prosedur yang tepat.

 


EditorTri Wahono

Close Ads X