UI Tidak untuk "Dijual"

Kompas.com - 06/09/2011, 03:28 WIB
Editor

Depok, Kompas - Universitas Indonesia tidak untuk ”dijual”. UI harus tetap menjadi mercusuar kemandirian moral sesuai dengan roh yang diembannya sebagai lembaga pendidikan tinggi selama puluhan tahun di negeri ini. Untuk itu, semua pihak di kampus UI mesti bekerja dengan hati nurani.

Pernyataan itu disampaikan Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia Emil Salim dalam orasi ilmiah berjudul ”Membangun Tata Kelola UI Berhati Nurani”. Orasi Emil yang disampaikan dalam acara halalbihalal di Fakultas Ekonomi UI, Depok, Senin (5/9), itu didukung banyak pihak sebagai penyikapan terhadap

pemberian gelar doktor honoris causa (HC) kepada Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud, beberapa waktu lalu, oleh Rektor UI.

Hadir memenuhi ruangan adalah sejumlah guru besar UI dari berbagai fakultas, karyawan, mahasiswa, dan aktivis lembaga swadaya masyarakat. Di tempat terpisah, Rektor UI Gumilar R Somantri juga mengadakan halalbihalal.

”Yang ingin saya angkat adalah roh UI yang diembannya puluhan tahun. UI diselenggarakan berasas kemandirian moral untuk membangun perguruan tinggi sebagai kekuatan moral dalam membangun masyarakat yang demokratis dan mampu bersaing secara global,” ujar Emil.

Dia menegaskan, UI selama sejarah hidupnya adalah mercusuar kemandirian moral yang tegar berdiri dalam kegelapan di masa apa pun. Bahkan, UI bisa melepaskan diri dari intervensi politik.

Emil menyampaikan keprihatinannya akan tata kelola UI yang dinilainya tidak baik. ”Di kampus ini mestinya tercipta pola manajemen yang transparan, ada akuntabilitas, partisipasi dari para penopang kepentingan di dalam universitas, menyuburkan sistem check and balance dalam pengelolaan, dan menumbuhkan suasana kreatif yang bebas dari rasa takut untuk berbeda pendapat dalam kampus,” tuturnya.

”Saya sebagai Guru Besar UI meminta kita bekerja dengan hati nurani, yang tidak untuk dijual. Kalau boleh meminta di ujung akhir hidup saya, mari pertahankan moralitas UI,” kata Emil.

Pernyataan Emil ini mendapat sambutan meriah dari hadirin yang memenuhi aula Fakultas Ekonomi UI. Seruan UI is not for sale (UI tidak untuk dijual) berkumandang. Berbagai komentar terlontar di sana-sini mendukung pernyataan Emil. Ruangan menjadi amat riuh.

Terkait kasus pemberian gelar doktor HC, seusai orasi Emil mengatakan, ”Itu tanggung jawab Rektor, memberikan gelar tanpa konsultasi ke Majelis Wali Amanah (MWA). Dampaknya saya tidak tahu. Terserah nanti bagaimana keputusannya. Saya mau tekankan, ada perbaikan UI di masa transisi ini.”

Riris K Toha Sarumpaet, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengatakan, UI harus meletakkan masa depan bangsa yang baik dengan menjadi universitas yang baik. Apa yang diproduksi UI itu untuk masyarakat.

”Sebagai world class university dan universitas riset, UI seharusnya bukan memberikan gelar doktor HC kepada Raja Arab Saudi. Harusnya justru riset tentang bagaimana agar ke depan tidak ada lagi tenaga kerja indonesia yang dipancung di Arab. Kita lihat di mana kebenaran, keadilan, dan kejujuran yang diyakini UI,” kata Riris.

Ade Armando, pengajar UI, mengatakan, tata kelola yang tidak baik menyebabkan kontrol kekuasaan pada rektor tidak berjalan. ”Tidak ada kekuatan di UI yang bisa mengontrol Rektor. Dia bisa memberikan gelar doktor HC kepada Raja Arab Saudi tanpa melihat situasi,” kata Ade.(ELN/OSA)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X