Wawancara

Sagad: Dasarnya "Social Network"

Kompas.com - 16/09/2011, 10:37 WIB

Saya tidak menyangka ternyata banyak orang-orang seperti saya, developer website yang baru mendirikan perusahaan digital. Ternyata jumlahnya lumayan banyak dan terus bertambah. Saya ketemu sama partner di Sixreps, Denny Santoso, dari start up meet up. Natali juga ketemu partner-nya di sana. Nuniek juga gabung di Fimela karena meet up.

Menurut Sanny, bagaimana perkembangan start up digital di Indonesia?

Start up lokal perkembangannya cukup bagus, tapi kita masih dalam tahap infancy. Kita masih seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Kita mungkin butuh role model dari luar yang bisa di-adopt di Indonesia. Berita-berita mengenai start up lokal juga sudah mulai ramai di luar negeri. Sekarang tinggal bagaimana kita mempertahankan semua itu, agar saat mereka ke Indonesia, mereka betul-betul melihat keunggulan kita, bukan beritanya saja. Kalau dari sisi kompetisi menurut saya kita mampu kok, cuma bagaimana kita mengatur sustainability seperti yang dilakukan di luar.

Dari pengalaman mendirikan sekian banyak start up digital. Apa kiat yang bisa Anda bagikan buat para founder sebelum membuat perusahaan?

Sebelum membuat startup harus tahu problema apa yg harus mereka solve, kalau enggak ada, buat apa mereka dirikan start up? Sebelum bikin start up harus lihat market, bukan ide. Mungkin banyak juga yang punya background teknikal, cuma kalau mau memasarkan, ada teknologi yang harus diredam karena masyarakat tidak butuh itu. Percuma web keren tapi masyarakat tidak mau pakai. Contohnya Twitter, awalnya Twitter konsepnya sederhana sekali, tapi sekarang digunakan banyak orang dan berkembang dengan sendirinya. Contoh lainnya aplikasi Movrek. Berhubung saya suka nonton, saya pakai aplikasi itu untuk cek jadwal film. Sesederhana itu untuk aplikasi kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

Motivasi pendiri start up minimal bisa seperti Koprol. Ada juga yang menjadikan kasus koprol sebagai role model yang bisa menjadi contoh kesuksesan untuk diceritakan kepada orang tua.

Apa target yang ingin diraih dari program JKTFI bagi perkembangan start up lokal?

Target kami adalah mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin high potensial founder melalui sistem filter yang sudah ada. Pada saat terpilih, menteor-mentor mereka akan share dari dunia masing-masing sehingga harapan JKTFI adalah adanya start up baru yang didirikan dari berbagai aspek yang berbeda. Kalau ada dua yang sama, bergabung saja agar lebih kuat. Start up yang akan lolos nanti adalah start up yang memang kompeten untuk masuk ke pasar yang sebenarnya. Start up tidak lagi hanya sebagai tren, tapi start up didirikan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia.

Terakhir, bagaimana dukungan pemerintah selama ini terhadap perkembangan start up lokal di mata Sanny?

Menurut saya kita tidak boleh bergantung kepada dukungan pemerintah. Start up lokal bukan center of Indonesia, bukan center of problem di Indonesia. Banyak hal yang harus diurusi pemerintah yang menjadi prioritas. Jadi kita jangan terpaku dengan bantuan pemerintah. Kasus kita sebetulnya sama dengan yang dialami perusahaan-perusahaan di Silicon Valley yang tidak mendapat dukungan dari pemerintah secara langsung. Tapi mereka bisa jadi Silicon Valley yang sekarang, dalam waktu 10 tahun. Mereka berkembang sendiri, build network sendiri, sharing antar komunitas mereka sendiri. Kita pun sudah ada di jalan yang sama, jadi kita lanjutkan saja apa yang sudah kita lakukan sampai sejauh ini. Kalau akhirnya nanti pemerintah mendukung, ya anggap itu bonus saja.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorTri Wahono
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X