Wawancara

Sagad: Dasarnya "Social Network"

Kompas.com - 16/09/2011, 10:37 WIB
EditorTri Wahono

Akhirnya pada pertemuan ketiga dimulai dengan sharing session dari founder start up yang sudah matang. Waktu itu yang kami undang bapak Isaak Jenie. Di pertemuan pertama, saya dan Natali (Natali Ardianto) sudah dibantu Nuniek (Nuniek. Pertemuan kedua, Ollie mulai bantu-bantu. Lalu saya pikir, Natali dan Nuniek kan suami istri, harus ada orang lain yang bantu mengurusi supaya netral. Bergabunglah Ollie di pertemuan ke empat dia sudah jadi inisiator.

Lalu mengapa Sanny memutuskan mengundurkan diri sebagai inisiator komunitas #StartUpLokal? Apa karena pegang JKTFI?

Sebetulnya saya mundur bukan karena JKTFI. Saya bisa saja menjalani kedua-duanya sekaligus, karena tidak terlalu menyita waktu. Hanya saja, ada beberapa keputusan yang diambil mayoritas yang sudah tidak sejalan dengan visi misi saya. Karena merasa kontribusi saya juga tidak terlalu besar, saya memilih mundur agar tidak menganggu yang lain. Tapi saya mundur bukan sepenuhnya mundur lalu pergi begitu saja. Selama masih ada yang bisa saya bantu, saya akan tetap bantu komunitas #StartUpLokal.

Pengalaman apa yang paling berkesan selama mengurusi komunitas start up lokal?

Saya tidak menyangka ternyata banyak orang-orang seperti saya, developer website yang baru mendirikan perusahaan digital. Ternyata jumlahnya lumayan banyak dan terus bertambah. Saya ketemu sama partner di Sixreps, Denny Santoso, dari start up meet up. Natali juga ketemu partner-nya di sana. Nuniek juga gabung di Fimela karena meet up.

Menurut Sanny, bagaimana perkembangan start up digital di Indonesia?

Start up lokal perkembangannya cukup bagus, tapi kita masih dalam tahap infancy. Kita masih seperti bayi yang sedang belajar berjalan. Kita mungkin butuh role model dari luar yang bisa di-adopt di Indonesia. Berita-berita mengenai start up lokal juga sudah mulai ramai di luar negeri. Sekarang tinggal bagaimana kita mempertahankan semua itu, agar saat mereka ke Indonesia, mereka betul-betul melihat keunggulan kita, bukan beritanya saja. Kalau dari sisi kompetisi menurut saya kita mampu kok, cuma bagaimana kita mengatur sustainability seperti yang dilakukan di luar.

Dari pengalaman mendirikan sekian banyak start up digital. Apa kiat yang bisa Anda bagikan buat para founder sebelum membuat perusahaan?

Sebelum membuat startup harus tahu problema apa yg harus mereka solve, kalau enggak ada, buat apa mereka dirikan start up? Sebelum bikin start up harus lihat market, bukan ide. Mungkin banyak juga yang punya background teknikal, cuma kalau mau memasarkan, ada teknologi yang harus diredam karena masyarakat tidak butuh itu. Percuma web keren tapi masyarakat tidak mau pakai. Contohnya Twitter, awalnya Twitter konsepnya sederhana sekali, tapi sekarang digunakan banyak orang dan berkembang dengan sendirinya. Contoh lainnya aplikasi Movrek. Berhubung saya suka nonton, saya pakai aplikasi itu untuk cek jadwal film. Sesederhana itu untuk aplikasi kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

Motivasi pendiri start up minimal bisa seperti Koprol. Ada juga yang menjadikan kasus koprol sebagai role model yang bisa menjadi contoh kesuksesan untuk diceritakan kepada orang tua.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X