Sudah Wajib "Cloud", Korporasi Masih Ragu Soal Keamanan

Kompas.com - 18/11/2011, 14:35 WIB
EditorReza Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kalangan korporasi masih meragukan keamanan data yang akan ditaruh di komputasi awan (cloud computing). Sehingga masih banyak perusahaan yang masih mempertimbangkan untuk menggunakan layanan tersebut.

Associate Vice President, Asia Pacific Enterprise Infrastructure Research IDC, Simon Piff menyatakan masih banyak perusahaan yang belum mengantisipasi tren "big data" dan belum banyak memindahkan datanya ke cloud.

"Persoalannya adalah masalah keamanan. Ada sekitar 48 persen responden yang masih meragukannya," ungkap Piff di Jakarta, Rabu (16/11/2011).

Selain keamanan, kalangan pebisnis juga khawatir terhadap hilangnya kontrol data, masalah harga, dan validitas data. Dari seluruh responden, hanya 12 persen yang sudah menggunakan layanan cloud storage dan 23 persen yang masih dalam proses mempertimbangkan. Sedangkan sebanyak 34 persen responden menyatakan tidak memiliki masalah pada layanan awan.

Piff menilai adopsi cloud diperkirakan masih dalam tahap awal dan kemungkinan baru berpotensi tumbuh besar dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan.

Sementara, tantangan utama para eksekutif teknologi informasi di masa depan adalah harus mewaspadai pertumbuhan data (56 persen responden), peningkatan utilisasi (39 persen), dan masalah manajemen storage bagi virtual server. Jika tidak diwaspadai, maka data yang tidak terstruktur akan melonjak naik.

Masalahnya, 72 persen dari para eksekutif tersebut justru tidak memiliki strategi untuk mengantisipasi pertumbuhan data tak terstruktur seperti data multimedia, data berbasis Internet, atau berbagai jenis data raksasa berukuran multi-gigabyte yang saat ini menjadi penting sebagai sumber utama untuk aktivitas penggalian data.

"Hanya 67 persen eksekutif tersebut menyatakan keyakinannya bahwa infrastruktur storage mereka saat ini sudah cukup untuk 12 bulan ke depan," tambahnya.

Survei ini dilakukan IDC sejak Agustus hingga September 2011 yang melibatkan 150 eksekutif TI dari perusahaan berskala besar di Asia Pasifik. Hitachi Data Systems (HDS) menggelar survei tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai tantangan manajemen dan strategi soal storage.

Vice President and General Manager Hitachi Data Systems (HDS) ASEAN, Ravi Rajendran menyatakan bahwa data dan informasi harus disimpan, diatur, dan dikelola sesuai kepentingan perusahaan masing-masing. Namun, dengan mengadopsi teknologi terkini seperti komputasi awan, maka perusahaan tidak hanya bisa mengelola pertumbuhan datanya saja.

"Tapi juga mengumpulkan dan saling menghubungkan data untuk menciptakan informasi yang berguna," tambah Rajendran.

Untuk memberi solusi dari masalah kalangan pebisnis yang masih meragukan keamanan data, HDS menawarkan strategi tiga lapis untuk mengamankan data, mulai dari infrastruktur, konten dan informasi berbasiskan cloud.

Dalam laporan IDC tersebut, virtualisasi adalah teknologi yang paling banyak diadopsi di masa depan, ada sekitar 60 persen yang menginginkan teknologi tersebut. Disusul kemudian untuk disaster recovery (44 persen) dan enkripsi data untuk keamanan (37 persen). Keinginan pebisnis tersebut mengindikasikan bahwa teknologi lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan efisiensi sistem seperti kompresi data, automatic tiering, dan thin provisioning belum banyak diadopsi.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X