On Off 2011

Guru Ini Gunakan Perangkat Lunak untuk Ajarkan Kimia

Kompas.com - 03/12/2011, 21:41 WIB
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com -Pelajaran Kimia untuk tingkat Sekolah Menengah Atas selalu diidentikkan dengan percobaan di laboratorium kimia, dan berkutat dengan proses pencampuran berbagai zat untuk melihat hasil reaksinya. Tetapi, sebuah sekolah di Kalimantan Tengah mencoba terobosan baru. Apa terobosannya?

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, tidak lagi membutuhkan laboratorium untuk praktik mata pelajaran kimia. Para siswanya sudah menggunakan perangkat lunak untuk praktik secara visual. Dengan terobosan ini, sang guru Kimia, Urip, akhirnya mendapatkan penghargaan dari Acer Guraru (Guru Era Baru), sebuah penghargaan untuk para guru yang memanfaatkan teknologi untuk menunjang dunia pendidikan. Urip adalah pemenang satu-satunya Guraru tahun 2010 lalu.

Urip, yang lahir di Mojokerto, 25 Juni 1970 datang ke Kalimantan Tengah untuk mengabdi sebagai guru sejak tahun 2009. Sebagai guru Kimia, ia prihatin melihat para siswa di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah tidak memiliki laboratorium untuk praktik.

"Kebetulan saya mengambil kuliah S2 di UGM jurusan Komputasi Kimia. Jadi ilmu itu langsung saya terapkan di sekolah ini," kata Urip, saat ditemui Kompas.com, disela event On Off, di Rasuna Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Sabtu (3/11/2011).

Urip menggunakan perangkat lunak gratis seperti ACDLabs kepada para siswanya sebagai virtualisasi zat-zat kimia yang sedang dipelajari. Adapun, untuk komputasi kimia, Urip menggunakan perangkat lunak Hyperchem dan Ganssian.

"Perangkat lunak kimia di sekolah lain di Ibukota berguna untuk mengurangi limbah yang diakibatkan praktik di laboratorium kimia. Kalau di sekolah kami malah karena terpaksa," ujarnya sembari tertawa.

Ia mengaku, perangkat lunak kimia ini memang membantu, namun tetap tak bisa menggantikan fungsi laboratorium asli.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau di laboratorium, siswa bisa betul-betul melihat jika zat ini bertemu zat ini, reaksinya bagaimana. Kadang reaksinya berbeda untuk setiap siswa. Sedangkan jika menggunakan perangkat lunak, hasilnya akan sama saja. Mereka hanya bertemu zat visual sehingga hasilnya sudah di setting sedemikian rupa dan seragam," paparnya.

Namun, lanjut Urip, dia akan tetap menggunakan perangkat lunak tersebut dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa lebih mudah mengerti pemanfaatan teknologi.

Urip, yang juga seorang blogger aktif ini mengaku, turut memanfaatkan blognya sebagai referensi bacaan siswa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang pelajaran Kimia. Ia sering membagikanI tulisannya yang relevan dengan kurikulum yang berlaku. Para siswa juga didorong untuk aktif nge-blog.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.