Derita Buruh China yang Memproduksi iPad

Kompas.com - 27/01/2012, 14:13 WIB
EditorEgidius Patnistik

BEIJING, KOMPAS.com Kerja lembur berlebihan tanpa hari libur dalam seminggu, tinggal berjejal dalam asrama yang penuh sesak, serta berdiri terlalu lama sehingga kaki bengkak dan nyaris tidak bisa berjalan setelah kerja shift selama 24 jam. Itulah kehidupan sejumlah buruh yang mengaku bahwa mereka berkerja di pusat-pusat pabrik Apple di China. Perusahaan-perusahaan pemasok Apple itu juga diduga membuang limbah berbahaya secara serampangan dan punya rekor yang tidak bagus.

Hampir 140 pekerja cedera di sebuah perusahaan pemasok di China dua tahun lalu karena menggunakan bahan kimia beracun untuk membersihkan layar iPhone, sementara dua ledakan tahun lalu menewaskan empat orang dan melukai lebih dari 75 orang lainnya.

Raksasa teknologi dari California itu diduga telah diberi tahu tentang kondisi berbahaya di pabrik-pabrik di Chengdu, China barat daya, itu sebelum ledakan di pabrik-pabrik tersebut terjadi. Demikian dilaporkan harian New York Times, beberapa hari lalu.

"Jika Apple telah diperingatkan dan tidak bertindak, itu tercela," kata ahli keselamatan kerja di Massachusetts Institute of Technology, Nicholas Ashford, kepada New York Times. "Namun, apa yang secara moral menjijikkan di satu negara, di tempat lain hal itu diterima sebagai praktik bisnis, dan perusahaan-perusahaan mengambil keuntungan dari situ," tambah mantan penasihat pada Departemen Tenaga Kerja AS tersebut.

Sejumlah spanduk di pabrik di Chengdu memberi peringatan kepada 120.000 staf yang ada. "Kerja keras dalam pekerjaan yang ada saat ini atau bekerja keras untuk mencari pekerjaan besok." Di tempat itu, para pekerja yang datang terlambat sering harus menulis semacam surat pengakuan dosa.

Laporan harian itu muncul segera setelah Apple mengumumkan keuntungan yang melonjak senilai 13 miliar dollar AS dalam penjualan sebesar 46 miliar pada kuartal terakhir. Namun, perusahaan itu masih ingin pabrik-pabriknya di luar negeri menghasilkan lebih banyak lagi.

Para eksekutif Apple mengklaim, perusahaan itu telah memperbaiki pabrik-pabriknya dalam beberapa tahun terakhir dan menerbitkan kode etik tentang tenaga kerja dan keamanan bagi pemasok. Namun, menurut kelompok advokasi pekerja, masalah masih ada.

Menurut laporan perusahaan itu, lebih setengah dari pemasok yang diaudit Apple telah melanggar setidaknya satu bagian dari kode etik itu—hal tersebut terjadi setiap tahun sejak 2007—dan bahkan dalam sejumlah kasus melanggar hukum.

Seorang karyawan Foxconn, mitra Apple, menurut New York Times, melompat atau jatuh dari sebuah blok apartemen setelah kehilangan sebuah prototipe iPhone tahun 2009; dan 18 pekerja lainnya tampaknya mencoba untuk bunuh diri dalam dua tahun. Jaring bunuh diri telah dipasang untuk mencegah para pekerja melompat hingga tewas dan Foxconn mulai menyediakan perawatan kesehatan mental yang lebih baik bagi para stafnya.

Li Mingqi bekerja untuk pabrik mitra Apple, Foxconn Technology, sampai musim semi lalu. Ia ikut mengelola pabrik di Chengdu yang mengalami ledakan. Dia sekarang menggugat Foxconn atas pemecatan terhadap dirinya. "Apple tidak peduli tentang apa pun selain meningkatkan kualitas produk dan menurunkan biaya produksi," kata Li kepada New York Times. "Kesejahteraan pekerja tidak ada kaitannya dengan kepentingan mereka."

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X