Masyarakat Bertanya, Onno Purbo Menjawab

Kompas.com - 01/02/2012, 07:43 WIB
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Harian Kompas hari Selasa (31/1/2012) menurunkan tulisan berjudul "Saya Percaya Kita Bukan Bangsa Bodoh" yang berisi tanya jawab dengan praktisi TI Indonesia, Onno W. Purbo. Tulisan ini dapat Anda temui di Harian Kompas terbitan tanggal 31 Januari 2012 pada halaman 33.

Artikel tersebut dapat Anda baca di Kompas.com melalui link ini, http://tekno.kompas.com/read/2012/01/31/09091298/Onno.W.Purbo.Saya.Percaya.Kita.Bukan.Bangsa.Bodoh.

Pertanyaan-pertanyaan yang ada di tulisan tersebut berasal dari masyarakat dan dijawab langsung oleh Onno Purbo. Cukup banyak pertanyaan yang masuk. Namun, beberapa pertanyaan tak dapat ditampilkan di Harian Kompas karena keterbatasan halaman.

Pada berita ini, kami akan menampilkan secara utuh seluruh pertanyaan dan jawaban dari Onno Purbo. Jawaban dari pak Onno ini pun asli, tanpa kami kurangi dan sunting sama sekali.

Daftar pertanyaan dan jawaban di bawah ini bisa dibilang versi lengkapnya artikel "Saya Percaya Kita Bukan Bangsa Bodoh" dan tentu saja akan ada beberapa materi yang sama.

Selamat membaca!

Pengantar Redaksi

”Masih pakai Microsoft, to? Pantes gak saya buka. Saya biasanya akan langsung buka kalau .odt. Kalau .doc dicuekin...,”  demikian jawaban Onno W Purbo saat Kompas mengingatkan tenggat jawaban darinya untuk rubrik ”Kompas Kita”. Kompas memang melampirkan pertanyaan dari pembaca dalam format Microsoft Word.

Begitulah gaya Onno berjuang. Walaupun menyebut dirinya ”an ordinary Indonesian”, rakyat Indonesia biasa saja, di dunia teknologi informasi, Onno sesungguhnya adalah seorang tokoh luar biasa. Kiprah pakar bidang teknologi informasi ini tidak diragukan lagi. Dia berjuang untuk akses internet murah dan perangkat lunak open source Linux. Onno percaya filosofi ”copyleft”. Banyak tulisannya dipublikasikan secara gratis di internet.

Mantan dosen Institut Teknologi Bandung  itu menyebar keahliannya setiap saat, dari kota ke kota. Selain pakar internet, dia juga dikenal sebagai penulis, pendidik, dan pembicara seminar.

Dia tidak memegang smartphone seperti kebanyakan orang Indonesia yang genit dengan gadget canggih teranyar.   Onno menggunakan netbook dan telepon seluler Android merek lokal. Selain aktif menyebarkan Linux, Onno juga dikenal dengan RT/RW-net, jaringan komputer swadaya masyarakat untuk menyebarkan internet murah. Karya inovatif  lain dia adalah Wajanbolic, koneksi internet murah tanpa kabel.

Mungkinkah kita membuat jaringan Wide Area Network (WAN) di desa dan antardesa, termasuk yang remote area seperti desa-desa di Pulau Kangean dan Pulau Sepanjang, Madura, untuk transaksi online antarwarga desa?

Mungkinkah kita membuat sistem transaksi bisnis online di desa-desa seperti itu sehingga transaksi  bisnis bisa berlangsung  lancar di desa-desa berbatasan hutan seantero Pulau Jawa dan Madura?  (Heru Hartanto, Madiun)

Pembuatan jaringan WAN sangat sederhana sebetulnya, baik  antardesa, antarkota, maupun antarpulau. Semakin pendek jarak, semakin mudah, semakin murah, dan semakin tinggi  kecepatan.    

Semakin jauh jarak, biasanya semakin mahal dan semakin rendah kecepatan.

Masalahnya adalah berapa biaya yang disediakan. Ilmu membangun jaringan RT/RW- net ini bisa dibaca di http://belajar.internetsehat.org/wiki/index.php/Teknologi_RT/RW-net.

Untuk wilayah agak luas, jangkauan beberapa puluh kilometer, ada baiknya membaca e-book jaringan wireless di dunia berkembang http://wndw.net.

Untuk wilayah sepanjang Jawa-Madura atau Indonesia, sebaiknya menyewa backbone dari operator kemudian disebar menggunakan RT/RW-net karena akan lebih murah.

Ada beberapa hal penting dalam membuat transaksi bisnis online, seperti ruang untuk menjajakan barang dagangan (bisa berupa web), ruang untuk melakukan negosiasi/transaksi (bisa berupa e-mail/forum), dan mekanisme pembayaran supaya tidak ada orang melakukan penipuan.

Ada baiknya belajar dari rekan-rekan yang sudah berpengalaman seperti di kaskus.us atau di tokobagus.com.
 
Jika pada suatu hari nanti kita semua beralih ke cloud computing, operating system, data storage, dan lain-lain, semua berada di cloud. Apa yang harus disiapkan khususnya oleh negara Indonesia? Bagaimana kiat agar aman dari kejahatan di cloud? (Sunu Permana, xxxx@gmail.com)

Saya melihat cloud sebagai mekanisme virtualisasi saja. Membuat sebuah sumber daya bisa bermanfaat lebih banyak.

Cloud akan tetap membutuhkan server, membutuhkan teknisi, dan membutuhkan programmer, kecuali Anda ingin membeli semua dari provider komersial.

Kejahatan di cloud tak berbeda jauh dengan kejahatan yang ada  sebetulnya. Jadi, teknik penyiapan sumber daya manusianya sama dengan infrastruktur yang sekarang sebetulnya.

Dengan kondisi infrastruktur ataupun keamanan jaringan yang ada sekarang, bagi mereka yang ingin mengirit dan aman, akan lebih baik menggunakan private cloud, jangan menggunakan public cloud atau komersial.

Private cloud dengan mudah dibangun menggunakan perangkat lunak open source seperti Proxmox.
 
Pak, mengapa di Indonesia kecepatan akses internet tidak seperti negara Asia yang lain, khususnya Jepang dan Korea Selatan? Apakah karena infrastruktur yang tidak didukung penuh oleh pemerintah atau karena faktor lain? (Manan Tarigan, Medan)

Kalau dilihat dari sisi komersial sebetulnya sederhana. Kalau kita membeli barang eceran, pasti harganya akan mahal.

Kalau kita membeli barang gelondongan, pasti harganya akan murah. Kalau kita memakai produk/server lokal, pasti harganya murah. Kalau kita memakai produk/server luar negeri, pasti membuat harganya mahal.

Jadi, kalau kita ingin Indonesia mempunyai internet cepat dan mudah, yang harus dilakukan:
- Membuat sebanyak mungkin orang Indonesia melek atau pakai internet supaya kita bisa beli gelondongan. Jangan eceran.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X