Kanker Paru Naik Seiring Jumlah Perokok

Kompas.com - 11/02/2012, 07:15 WIB
EditorLusia Kus Anna

Jakarta, Kompas - Jumlah pasien kanker paru meningkat 20 persen setiap tahun. Peningkatan ini seiring dengan peningkatan jumlah perokok di Indonesia.

”Faktor risiko terbesar kanker paru adalah merokok, yang dihubungkan dengan 9 dari 10 kasus kanker paru,” kata Achmad Hudoyo, dokter subspesialis paru dari RS Persahabatan, Jumat (10/2), di Jakarta, di sela-sela Pertemuan Ilmiah Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi.

Data RS Persahabatan menunjukkan, jumlah pasien kanker paru yang berobat atau dirawat mencapai 800-1.000 orang selama dua tahun terakhir. Diprediksi, jumlah ini akan mencapai angka 1.300 pada tahun 2013.

Achmad mengatakan, 70 persen dari pasien kanker paru menggunakan jasa Askes dan Jamkesmas. Hal ini berarti para pasien berasal dari golongan tidak mampu. Jaminan kesehatan itu mengakomodasi tindakan biopsi, bronkoskopi, kemoterapi, dan obat. Adapun terapi target, yang harga satu pil per hari Rp 600.000-Rp 700.000 dan pasien harus mengonsumsi selama berbulan-bulan hingga tahunan, tidak diganti Jamkesmas.

Dari jumlah pasien itu, sebagian besar merupakan perokok berat yang menghabiskan dua bungkus rokok per hari. ”Kanker paru bisa dicegah dengan tidak merokok. Tetapi, di Indonesia, makin tahun, jumlah perokok makin tinggi. Jumlah perokok mula juga meningkat,” ujarnya.

Dalam situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan, kanker paru menduduki peringkat pertama sebagai kanker penyebab kematian (1,37 juta kematian) disusul kanker perut (736.000), kanker hati (695.000), kanker kolorektal (608.000), kanker payudara (458.000), dan kanker serviks (275.000). Di Indonesia, angka kematian akibat kanker paru 20,5 per 100.000 orang.

Achmad mengatakan, angka kesintasan (survival rate) untuk 5 tahun kanker paru hanya 13 persen. Ini jauh lebih kecil dari kanker payudara, prostat, dan usus, yang bisa mencapai 80 persen.

Keterlambatan mendeteksi kanker paru membuat peluang penderita untuk bertahan hidup semakin kecil.

Pada kanker paru stadium lanjut, dokter menyarankan agar memanfaatkan pengobatan paliatif. Ini merupakan perawatan pasien kanker untuk mengurangi kesakitan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pakar pengobatan paliatif yang juga dokter subspesialis paru di RSUD dr Soetomo Surabaya, Benjamin P Margono, mengatakan, perawatan ini membutuhkan tim dari berbagai latar belakang. ”Keluarga pasien juga perlu penanganan karena ada kekhawatiran kanker menurun pada keluarga,” kata Benjamin. (ICH)

 

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X