TSUNAMI HIKAYAT SMONG PENJAGA HAYAT

Kompas.com - 26/05/2012, 06:49 WIB
Editor

Tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 lalu, telah membuka tabir tentang Nusantara yang retas. Padahal, tsunami yang merenggut nyawa 310.000 orang itu bukan yang terkuat yang pernah terjadi. Di masa lalu, tsunami diyakini telah mengubah jalannya sejarah Nusantara. Tsunami raksasa berikutnya bisa melanda kapan saja. Sudahkah kita bersiaga?

WAJA H keriput Rukiah menegang. Matanya menatap kegelapan di balik pintu rumah yang separuh terbuka. Beberapa kali ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menembangkan syair kuno berbahasa Devayan, salah satu bahasa di Pulau Simeulue. Suara paraunya memecah kesunyian malam yang menyelimuti Dusun Beringin, Desa Salur, Teupah Barat, Simeulue, Aceh.

Sembilan bulankamu dikand u n g ny a , ”Rukiah menyanyi dengansuara lembut,seolah kepada bayi dalam ayunan. Lalu melantunlah nasihat agar anak selaluberbakti kepada ibunda yangsudah berjuang hidup-mati saat melahirkan.

Tibapada kisahkematian ibunda karenadibawa gelombanglaut, Rukiahtak kuasamenahan tangis. Dari sudutmata yang terpejam, air matanya menetes. ”Saya teringat ma- mak,”ujarRukiah sambilmengusapair matanya. ”Mak Jadah, nenek saya, biasa menyanyikan syair ini sebelum tidur.”

MakJadah membesarkanRukiahsetelah ibunya, Sarinuh, meninggal terseret ombak lautyang menerjang Simeulue padahari Jumat,awal tahun1907. Rukiah menyebut petakaitu sebagai ”smong tahun tujuh”. Smong adalah istilah Simeulue untuk ombak besar yang menerjang daratan setelah gempa.

Kesaksian Rukiah tentang gempa tahun 1907ini bersesuaiandengan penelitian Newcombdan McCann.Dalam tulisandi  Journalof GeophisycalRes e a rc h  Volume 92tahun 1987, ”Seismic History and Seismotectonic of the Sunda Arc”,keduanya menyebutkangempa dan tsunami pada 4 Januari 1907 yang melanda Simeuluedan pantai-pantaidi sekitarnya sepanjang 950 kilometer. Gutenberg dan Richter dalam buku mereka, Seismicityof theEarth (1954), menye- butkan,gempapada tahun1907terjadi di Simeulue dengan magnitudo 7,6.

Newcomb dan McCannjuga mencatat, gempa 4 Januari 1907 ini bertepatan dengan hari Jumat, persis denganingatan Rukiahtentang  smong ta hun tujuh. ”Mak Jadah sering memberi nasihat, kalau terjadi  linon (gempa bumi)besar, lalulautsurut, segeralahlari ke bukit. Tinggalkansegala harta benda karena setelah ituakan datang  smong,” kata Rukiah.Nasihat itu pulayang diteruskanRukiah kepadaanak-anakdan cucu-cucunya, berlanjut hingga cucu dari cucunya.

Rukiah tak ingat berapa persis umurnya. Tetapi, perempuan yang sudah memiliki lima generasi keturunan ini mengaku sudah berumur enam tahun ketika smong tahun 1907 terjadi.

Dia tengah bermain di halaman rumah dengan kakaklelakinya, Nyak Ukum, ketika gempakuat tiba-tiba ”mengguncang. Orang-orang kebingungan dan banyak yangberteriak air laut telah surut. Maka, orang pun berlari ke laut, mengambilikan yangmenggelepar di karang. Namun, tiba-tiba air laut naik tinggi membanjiri pantai.

Rukiah kecilyang kebingungan diangkat dan digendong ayahnya, Mandasah, yangbaru pulang dari masjid ditepi pantai. Mandasah melarikan kedua anaknyamenuju Gunung Delok Kotoh, 100 meter di belakang rumah.

Gemuruh airmengejar. ”Kamiyang digunungselamat. Tapi, lebihbanyak yangmati, termasuk yang naik  biluk (perahu besar),”ujar Rukiah dengan mata berkaca-kaca. Salah satu korbantewas adalahibunya, Sarinuh.

Dariatas bukit,Rukiahmenyaksikan desanyamusnah digulungombak. Rumah-rumah kayu hanyut bersama dengan perahu, batang pohon, dan mayat. ”Setelahair surut,banyak mayattersangkut di pohon,”ujar Rukiah. ”Lebih satu bulan kami tinggal di hutan, makan pisang hutan dan umbi talas.”

Kisah mayat-mayat yang tersangkut didahan-dahan pohon tinggi sangat populer di Simeulue. Masyarakat di sepanjang pantai barat Simeulue selalumenceritakan kisahitu jikasedang membahas smong. DiDusun Alafan,Desa Langi, Simeulue Barat, warga menceritakan mayat-mayat yang tersangkut di dahan pohon durian.

”Dari ceritaorang tuadulu,  smong tahun 1907berarti airnyalebih tinggi karena ada orangtersangkut di batang durian. Saattsunami 2004, airnaik 8 meter,tidak sampaimelewatipohon durian,”kataKepala DesaLangi,Hasranudin (45).

Menurut Hasranudin,warga yangtewas dihantam smong kebanyakan karena kegirangan menangkapikan-ikan yang menggeleparsaatair lautsurutmen- dadak. Saat itu, mereka belum mengenal bahaya smong.

Menurut Rukiah, korban  smong 1907 itudikubur disampingMasjid Salurdi tepi laut. Sebuahmakam tanpa nisan terlihat dibelah pagar Masjid Salur. Masjid yang didirikan oleh ulama Banurullah utusanKerajaanAceh itujugakehi- langan satu sendibatu umpak yang hanyut dibawa tsunami.Tujuh sendi lainnya ditemukan 60 meter dari masjid ke arah bukit.

SelainMasjid Salur,jejaktsunami 1907jugabisa dilihatdaritemuanbatu koraldi DesaNaibos.Batu koralitu disebut batu  alaih,artinya batu yang berasal dari laut. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI), Herry Yogaswaradan EkoYulianto, dalambuku  Smong: PengetahuanLokalPulau Simeulue (2008), menyebutkan,batu koraldengantinggi 1meterituberasal dari terumbu karang  Co e l e n t e ra t a  yang hidup di laut pada kedalaman 30 meter. ”Kemungkinan besar batu ini terbawa tsunami tahun 1907 karena ada lapisan tipis pasirtsunami di bawahkoral tersebut,”tulis Herry dan Eko.

Rukiah barangkali saksi terakhir smong 1907.Kondisi fisikRukiahyang sehat, kuat berjalan, dan penglihatannya yang masih awas, bahkan di malam hari, awalnya membersitkan keraguan tentang umur Rukiah. Namun, kemampuan

Rukiah mengisahkan rinci kejadian, termasuk bagaimana ibunya meninggal karena tsunami, meyakinkan kami. Rukiah yang palingtidak sekarang telahberumur111 tahundiberkahikekuatan fisik ataupun ingatan. ”Dia tidak pernah sakit. Bahkan, sekarang dia yang merawat kakak kami, Asana, yang sudah pikun dan sakit-sakitan,”kata Kamaludin (45), anak tiri Rukiah.

Asana adalah anak sulung Rukiah, kini berusialebih dari80tahun. Iasebaya denganKumendan (83),pemilikkedai kopidi sampingMasjid Salur.Kumen dan juga masihbisa mendeskripsikan kejadian smong 1 9 0 7.

”Setelahgempaair lautsurut,kuala (sungai) jugakering, ikanjanang menggelepar di batu-batu,”ujar Kumendan, yang mengaku mengetahui cerita itu dari ayahnya, Nyak Tanda. Menurut Kumen dan,ayahnya berumurtujuh tahunsaat smong 1907 terjadi. Nyak Tanda telah meninggal12 tahunsilam.”Me n u r u t ayah saya, kejadian smong hari Jumat. Orang-orang yang lari ke bukit selamat,” k a t a ny a .

Nyak Tanda seumuran dengan Rukiah dan sepantaran dengan Iskandar, paman Camat Teupah Barat,Karim. ”Paman Iskandarjuga seringcerita soal smong,” kata Karim. Iskandar baru saja meninggal pada Februari 2012.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X