Alergi Teknologi, Teknisi Komputer Pilih Tinggal di Hutan

Kompas.com - 27/07/2012, 09:49 WIB
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com Seorang pria dari Inggris mengalami penyakit aneh bernama electromagnetic hypersensitivity. Akibatnya, dia merasakan berbagai macam kesakitan ketika terekspos radiasi dari gelombang jaringan nirkabel (WiFi), telepon genggam, oven microwave, dan menara BTS.

Ironisnya, pria bernama Phil Inkley tersebut tadinya adalah teknisi komputer dan audio yang sering bekerja di sekeliling komputer dan benda-benda teknologi lainnya. Semua itu berubah ketika komunikasi wireless mulai berkembang.

Begitu berada di dekat benda yang mentransmisikan gelombang elektromagnetik, pria berusia 36 tahun ini mengalami berbagai macam gejala penyakitnya, seperti sakit kepala hebat, denyut jantung tidak teratur, sulit tidur, kejang-kejang, dan mimisan.

Dokter yang dikunjunginya khawatir, Phil mengalami tumor atau pendarahan di otak dan menyarankan pemindaian kepala dengan magnetic resonance imaging (MRI). Namun, Phil menolak dengan alasan pemindaian seperti itu bisa membuatnya sakit lebih parah lagi.

Tak tahan dengan sakit yang dideritanya, Phil memilih mengasingkan diri ke tengah hutan di Hampshire, Inggris. Dia tinggal di sebuah karavan yang dibeli secara patungan oleh teman-temannya. "Saya berpikir bahwa inilah satu-satunya cara untuk mengontrol sakit-sakit itu dan menyelamatkan hidup saya," ujarnya.


article-2178158-14311D4A000005DC-41_634x419
Phil Inkley hidup tanpa ponsel, WiFi, atau benda-benda lainnya yang memancarkan gelombang elektromagnetik (gambar: Caters News Agency/Daily Mail)

Tujuh tahun lalu, Phil bekerja sebagai teknisi audio dan produser musik.  "Sejak kecil saya suka dengan teknologi. Saya sering memperbaiki komputer milik saudara dan teman-teman. Semuanya baik-baik saja sampai teknologi wireless mulai muncul."

Karena penyakitnya itu, Phil tidak bisa berhubungan dengan teman-temannya atau melakukan aktivitas lain seperti pergi ke pub karena di kota banyak orang yang memakai telepon genggam. Jaringan WiFi pun diterapkan di banyak tempat seperti kafe-kafe.

"Bagian terberatnya (dari hidup di tengah hutan) adalah kehilangan teman-teman saya, tak punya kehidupan sosial atau kehidupan cinta. Saya hidup dalam isolasi."

Phil bukan satu-satunya orang yang mengalami hal tersebut. Dua perempuan Perancis bernama Anne Cautain dan Bernadette Touloumond pernah tinggal di gua selama tiga tahun gara-gara menderita electromagnetic hypersensitivity.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.