MODA TRANSPORTASI

Merancang MRT Khas Jakarta

Kompas.com - 09/01/2013, 03:12 WIB
Editor

Pertimbangan kombinasi konstruksi layang dan bawah tanah ini, antara lain, pada segi pendanaan dan penyesuaian dengan lingkungan sekitar. Konstruksi bawah tanah memerlukan biaya 2,5 kali lebih besar dibandingkan konstruksi layang.

Konstruksi bawah tanah dipilih dengan pertimbangan estetika kawasan Sudirman- Thamrin yang merupakan jalan protokol.

Konstruksi jalan MRT ini sama dengan jalan kereta api pada jalur Kota-Gambir hingga Manggarai. Karena itu, pembangunan jalan layang untuk MRT relatif tidak ada kesulitan karena teknisi Indonesia telah memiliki pengalaman.

Untuk pembangunan jalan layang MRT akan dilakukan pelebaran jalan di jalur dari Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja hingga 22 meter. Saat ini jalur jalan 13-18 meter.

Pembangunan terowongan bawah tanah terdiri dari dua metode, yaitu penggalian terbuka dari Sisingamaraja hingga Senayan dan penggunaan mesin bor terowongan berdiameter 6,65 meter dari Senayan hingga Bundaran HI.

Sistem bor kemungkinan akan menggunakan sistem Jepang, yang dilengkapi dengan earth pressure balance, menjaga keseimbangan antara tekanan bor dan kekuatan tanah. Hal ini untuk mencegah runtuhnya dinding saat pengeboran. Pengeboran diikuti dengan pemasangan casing terowongan yang terbuat dari beton pracetak.

Sistem itu dilengkapi sensor untuk menjaga jalur dan kedalaman terowongan dengan presisi tinggi. Kedalaman terowongan 13-18 meter dari permukaan tanah. Stasiun pertama di bawah tanah berada di bawah Ratu Plasa. Semuanya akan ada 6 stasiun bawah tanah.

Jarak rel kiri dan kanan (rail gauge) serupa dengan kereta api yang ada, yaitu 1.067 mm. Hal ini agar pada masa mendatang dimungkinkan penyatuan jalur.

Moda transportasi ini dapat melayani penumpang hingga 173.000 orang per hari pada tahun pertama operasi. Moda ini mampu mengurangi waktu tempuh dari Lebak Bulus-Bundaran HI hingga 28 menit dibandingkan lewat jalan biasa dalam kondisi lalu lintas lancar.

Dampak positif lain operasional MRT adalah mengurangi emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar minyak kendaraan sebanyak 30.000 ton hingga 2020. Selain itu, dapat pula menambah 48.000 lapangan kerja selama lima tahun masa konstruksi. Penggunaan MRT juga mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas serta meningkatkan perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X