Kompas.com - 22/02/2013, 09:50 WIB
EditorReza Wahyudi

Associateed Press Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Teknologi komputasi awan (cloud computing) semakin digemari oleh kalangan enterprise atau korporasi.

Menurut survei yang dilakukan oleh Symantec dan ReRez, dari 100 perusahaan yang menjadi narasumber, semua organisasi (100 persen) di Indonesia paling tidak mendiskusikan tentang komputasi awan. Nilai tersebut meningkat dari 80 persen tahun yang lalu.

Beberapa alasan mengapa minat terhadap teknologi komputasi awan bisa terus meningkat. Di antaranya karena kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas yang ditawarkan.

Namun, apabila teknologi ini tidak dikelola dengan benar, bisa jadi keuntungan tersebut malah berbalik menjadi kerugian. Terburu-burunya implementasi teknologi ini juga dapat mengakibatkan biaya tersembunyi atau tambahan bagi perusahaan.

Symantec sendiri berhasil mengidentifikasi beberapa masalah umum yang bisa menyebabkan terjadinya biaya tersembunyi tersebut.

Penggunaan rogue cloud (teknologi komputasi awan palsu) merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah biaya tambahan. Hal ini menjadi masalah umum yang mengejutkan karena ditemukan di lebih dari tiga perempat (92 persen) perusahaan di Indonesia selama tahun 2012.

"Dari organisasi yang terkena masalah rogue cloud, ada sekitar 40 persen yang mengalami penyebaran informasi pribadi dan kerusakan properti web dan 34 persen mengalami masalah pengambilalihan akun," kata Raymond Goh, Senior Director, Systems Engineering, and Alliances for Asia South Region Symantec, saat berbincang bersama KompasTekno di Jakarta, Kamis (21/2/2013).

Sekitar 78 persen perusahaan responden yang menggunakan tiga atau lebih solusi untuk back-up data fisik, virtual, dan awan. Hal tersebut tentunya menyebabkan peningkatan inefisiensi TI, risiko, dan biaya pelatihan.

Selain itu, ada 69 persen enterprise di Indonesia yang kehilangan data mereka di awan dan sebagian besar mengalami kegagalan dalam pemulihan. Pada akhirnya, banyak yang melihat pemulihan awan sebagai proses lambat yang membosankan. Sekitar 68 persen menilai cepat dan 24 persen memperkirakan akan memakan waktu tiga hari atau lebih untuk pulih dari bencana kehilangan data di awan. Proses untuk mengembalikan atau memulihkan data tersebutlah yang membuat perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra.

Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya biaya tersembunyi. Menurut saran Symantec, sebuah perusahaan harus memusatkan kebijakan pada informasi dan orang, bukan teknologi dan platform. Perusahaan juga disarankan untuk lebih mendidik, memonitor, dan menegakkan kebijakan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.