AS Bisa Hadapi Rudal Korut

Kompas.com - 09/03/2013, 02:05 WIB
Editor

WASHINGTON, JUMAT - Dunia bereaksi keras atas ancaman terbaru Korea Utara, Jumat (8/3). Korut mengancam akan menarik diri dari perjanjian gencatan senjata dengan Korea Selatan tahun 1953 serta menyerang Amerika Serikat dan Korsel dengan senjata nuklir.

Reaksi pertama disampaikan Pemerintah AS lewat juru bicara Gedung Putih, Jack Carney, di Washington DC. Carney memastikan sistem pertahanan AS memiliki kemampuan penuh untuk mengantisipasi serangan peluru kendali balistik Korut.

”Sistem pertahanan AS dirancang untuk menghadapi serangan rudal jarak jauh. Kondisinya juga sangat baik dan sukses mengujicobakan sistem penangkis rudal darat ke udara,” lanjut Carney.

Namun, AS mengakui bahwa Korut menguasai teknologi rudal balistik jarak menengah, yang mampu menghajar sasaran lain yang lebih dekat, seperti pangkalan militer AS di Jepang atau Korsel.

Kekhawatiran itu disuarakan Victor Cha dari lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies untuk masalah Korea. Menurut Cha, sulit memastikan sistem pertahanan seperti apa yang dibutuhkan untuk menghadang serangan rudal jarak menengah itu.

Menurut David Wright dari organisasi Union of Concerned Scientists, sistem pertahanan itu dibangun pada masa pemerintahan Presiden George W Bush, yang dalam sejumlah uji coba tahap awal dinilai belum sempurna.

Militer AS di Asia Timur menempatkan sistem rudal penangkis darat-udara Patriot dan laut-udara Aegis yang didesain untuk menangkis serangan rudal jarak pendek. Keraguan atas kesiapan AS, menurut utusan AS untuk Korut, Glyn Davies, tidak berarti menjadikan AS kurang awas dalam menghadapi ancaman dari Korut.

”Korut jangan salah perhitungan. Kami selalu memperlakukan ancaman apa pun dari mereka secara serius. Kami memiliki postur pertahanan yang tepat untuk menghadapi krisis apa pun yang muncul,” ujarnya.

Dari Jerman, Menteri Luar Negeri Guido Westerwelle menekan China, sekutu terdekat Korut, untuk segera bersikap dan menggunakan pengaruhnya atas negeri itu. Westerwelle meminta China membujuk Korut menghentikan berbagai bentuk provokasi yang berisiko mengisolasi negara itu lebih serius.

Menlu Jerman menyambut baik dukungan China atas sanksi terbaru Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. ”Namun, tak cukup sampai di situ. China harus memperingatkan Korut bahwa kali ini mereka sangat keterlaluan. Saya mendesak China menggunakan pengaruh kepada Korut,” ujar Westerwelle.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.