DESTABILISASI KOREA

Perang Dingin yang Memanas Tanpa Strategi

Kompas.com - 11/03/2013, 02:34 WIB
Editor

Ketegangan yang dibentuk Korut dalam destabilisasi Semenanjung Korea mungkin harus dipahami dalam perspektif lain. Tidak lagi melulu pada persoalan uji rudal jarak jauh dan ledakan nuklir bawah tanah.

Sejak 2006 sampai sekarang, tak ada yang bisa dilakukan sejumlah negara dengan membiarkan Pyongyang melakukan tujuan-tujuan propagandanya.

Penggetaran (deterrence) sebagai tulang punggung politik internasional dan keamanan nasional masa Perang Dingin di Semenanjung Korea menjadi tidak memiliki logika, efektivitas, dan tujuan yang pasti. Posisi AS dalam situasi ini seperti tersesat dan berharap dukungan China untuk menjatuhkan sanksi konkret atas Korut.

Fanatisme agresif

China menyadari, destabilisasi Semenanjung Korea bisa mengarah pada perubahan rezim Pyongyang dan memicu eksodus rakyat Korut secara masif ke wilayahnya. Perimbangan kekuatan di Semenanjung Korea, termasuk rekonsiliasi Korea, menjadi dilema bagi Beijing.

Seoul dan Tokyo memiliki pertimbangan sendiri menghadapi ancaman Kim Jong Un. Ancaman rudal jarak dekat Korut atas posisi pasukan AS di Korsel dan Jepang dengan sendirinya menjadi ancaman serius yang harus diperhitungkan secara matang.

Kebijakan poros AS tanpa strategi penggertak menjadi tak berarti dalam destabilisasi Semenanjung Korea. Deterensi dalam strategi militer Perang Dingin bukan menjadi alat penggertak belaka, melainkan ramuan strategi dalam mengepung dan mengecilkan pengaruh lawan memenangi situasi tanpa harus menuju Perang Dunia III.

Perspektif Pyongyang sangat jelas, mengabaikan peringatan dunia tentang uji coba nuklir dan peluncuran rudal bulan lalu. Kim Jong Un sebagai ”anak kecil” yang berkuasa pun mulai mengerti strategi penggertakan ini. Ada pancingan strategi eskalasi pertahanan yang dia harapkan dari lawan-lawannya yang berkepentingan di Semenanjung Korea.

Perilaku Kim Jong Un mencerminkan fanatisme agresif dan perilaku teroris yang sudah ada bertahun-tahun dan tidak berubah. Jong Un seolah-olah mengatakan, ”Anda tidak akan memenangi perang dan mengubah Semenanjung Korea. Tempat ini telah melahap tentara Anda. Hentikan rencana muluk, mari duduk dan diskusi bagaimana tentara AS meninggalkan Korea dan kita bisa hidup berdampingan secara damai.”

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.