Kompas.com - 12/03/2013, 08:08 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani
KAREN BLEIER / AFP Facebook

CAMBRIDGE, KOMPAS.com - Penelitian di Cambridge University mendapatkan temuan, bahwa dari setiap klik "Like" di media sosial Facebook, profil kepribadian seseorang bisa disusun. Sebuah algoritma digunakan dalam penelitian ini untuk menebak agama, politik, ras, dan orientasi seksual dari preferensi "Like" seseorang di Facebook.

"Secara mengejutkan, hasilnya akurat memotret kepribadian seseorang," kata Ketua Tim Peneliti, Michael Kosinski, seperti dipublikasikan dalam jurnal PNAS. Penelitian melibatkan 58 ribu sukarelawan, yang memberikan tanda jempol di Facebook dan informasi demografi.

Penelitian mendapatkan hasil tes psikometri, sebuah tes yang dirancang untuk menyoroti kepribadian seseorang. Data 'like' di Facebook dimasukkan dalam algoritma lalu dicocokkan dengan tes kepribadian.

Hasilnya, 88 persen akurat mengenali jenis kelamin laki-laki, 95 persen akurat membedakan ras Afrika-Amerika dari Kaukasia-Amerika, dan 85 persen akurat memilah simpatisan Demokrat atau Republik. Keyakinan responden pun 82 persen akurat terpetakan dari penelitian ini, antara Muslim dan Kristen. Demikian juga 65 persen akurasi terkait relasi, dan 73 persen soal penyalahgunaan zat terlarang.

Menurut penelitian ini, tautan yang jarang diklik 'suka', adalah terkait atribut seperti pernikahan sejenis. Atribut ini hanya diklik oleh kurang dari 5 persen responden. Sebaliknya, algoritma mengumpulkan banyak klik 'like' untuk musik dan acara televisi, yang bisa dipakai untuk menyusun profil seseorang.

Tapi, penelitian pun mendapatkan hasil yang cukup aneh. Misalnya, memberi tanda suka pada kentang goreng ternyata berkorelasi dengan kecerdasan tinggi. Sementara, orang yang menyukai film Dark Night cenderung punya lebih sedikit teman dibandingkan yang tak menyukai film itu.

Berpikir ulang soal data

Penelitian ini bakal menjadi 'musik merdu' di telinga perusahaan yang memanfaatkan sosial media untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan melalui pemasaran personal. Tapi, para peneliti juga mengingatkan bahwa pembuatan profil digital seseorang dapat melanggar privasi.

Kosinski mengatakan akan mengapresiasi penggunaan penelitian ini untuk memberikan rekomendasi buku. Atau, kata dia, hasil penelitian digunakan Facebook untuk memilah cerita yang paling relevan dimunculkan di newsfeed seseorang.

Tapi, Kosinski mengaku bisa bisa membayangkan situasi ketika data dan teknologi yang sama dipakai untuk memperkirakan pilihan politik atau orientasi seksual seseorang. "Bisa mengancam kebebasan bahkan hidup," ujar dia.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.