Permisif, Orang Indonesia Jadi Sasaran Empuk Hacker

Kompas.com - 14/03/2013, 12:42 WIB
EditorReza Wahyudi

oik yusuf/ kompas.com Wakil Presiden Codenomicon APAC Sami Petajasoja (kiri), Mantan Kepala Keamanan Gedung Putih Howard A. Schmidt (tengah), dan Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kemkominfo Kalamullah Ramli dalam seminar Cyber Security Codenomicon di Jakarta, Rabu (13/3/2013)


KOMPAS.com - Cenderung mudah percaya. Sifat orang Indonesia yang satu ini adalah salah satu faktor yang mendukung penyebaran tindak kejahatan siber (cyber). Itulah yang diungkapkan para pembicara dalam acara sminar Cyber Security Codemicon di Jakarta, Rabu (13/3/2013) kemarin.

"Menurut saya kita punya budaya yang terlalu permisif terhadap data pribadi, contohnya di Facebook banyak data pribadi kita ditaruh begitu saja," ujar Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Kalamullah Ramli, salah satu pembicara dalam seminar itu.

Padahal, data-data pribadi semacam alamat dan nomer telepon rentan disalahgunakan sebagai sarana melancarkan serangan cyber atau tindakan tidak mengenakkan lainnya.

"Sebagai contoh, akhir-akhir ini banyak spam yang sudah sampai mencantumkan nama penerimanya," kata Ramli. Menurut dia, kebiasaan orang Indonesia dalam hal yang satu ini berbeda dengan masyarakat di luar negeri, khususnya negara-negara barat yang memperlakukan informasi pribadi sebagai sesuatu yang privat, tidak untuk disebarluaskan.

"Di sini, kita cenderung lebih mudah memberikan info pribadi, seperti fotokopi KTP yang dengan gampang kita berikan ke mana-mana. Begitupun bila bertemu kenalan baru, yang belum tentu berniat baik," Ramli menjelaskan.

Akibat lainnya dari sifat mudah percaya, lanjut Ramli, orang Indonesia rentan dimanfaatkan pelaku kejahatan cyber untuk menerapkan social engineering.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Istilah yang satu ini mengacu pada tindak manipulasi subyek (manusia) menggunakan kepercayaan, simpati, dan lain sebagainya sehingga subyek yang bersangkutan mau melakukan tindakan tertentu atau mengekspos data pribadi.

Mantan Kepala Keamanan Cyber Gedung Putih Howard Schmidt mengungkapkan bahwa hal semacam itu sering terjadi di negeri Paman Sam. "Misalnya ketika bencana badai Katrina beberapa waktu yang lalu, banyak pelaku penipuan phising yang meminta sumbangan atas nama korban bencana. Mereka ini memanfaatkan solidaritas dan rasa ingin menolong dari masyarakat."

Masuk Kurikulum

Demi meningkatkan kesadaran masyarakat soal bahaya ancaman cyber terkait data-data pribadi yang ditampilkan di wilayah publik, Ramli berpendapat bahwa salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memasukkan mata pelajaran cyber crime dalam kurikulum anak sekolah.

"Soalnya, banyak anak-anak yang menjadi korban. Mereka tidak sadar sama sekali," jelas Ramli, seraya menambahkan bahwa memajang foto anak di Facebook sudah mulai dihindari karena banyaknya pedofilia yang berkeliaran di jagat maya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X