Kompas.com - 18/05/2013, 19:16 WIB
EditorJodhi Yudono

Sungguh ironis jika kebudayaan keraton yang merupakan sumber beribu-ribu inspirasi budaya dan  monumen sejarah capaian puncak-puncak peradaban adiluhung manusia Indonesia, kini terancam punah keberadaannya. Tentu semua pihak berkepentingan agar jatidiri bangsa dan tradisi keraton ini tetap dipertahankan dan dikembangkan secara kreatif dalam proses akulturasi dengan kebudayaan global.

Pada tanggal 12 Mei 2013 ini akan dikukuhkan lahirnya sebuah lembaga bernama Paguyuban Catur Sagotra Nusantara di Puri Agung Hotel Sahid, Jakarta menandai bangkitnya usaha untuk menggalang para kerabat, pakar budaya, pemerhati kebudayaan dalam usaha pelestarian, pengembangan dan pengkajian kebudayaan adiluhung keraton. Khususnya catur (empat) keraton yaitu: Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran dan Pakualaman dan keraton lain di seluruh Nusantara pada umumnya.

Sudah dikonfirmasi akan hadir Para raja-raja seperti  Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sinuhun Paku Buwono XIII, Sri Paku Alam IX dan Sri Mangkunagoro IX dll. Juga para perwakilan raja-raja Nusantara seperti dari Puri Agung Karang Asem, Kasepuhan Cirebon, Aceh Darussalam dll. Tentunya akan hadir pula pejabat tinggi pemerintah dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Depdagri.

Selain akan dilakukan serimonial dan sambutan dari pejabat pemerintah dalam hal ini adalah Wamenbud Prof. Wiendu Nuryanti juga akan dipersembahkan kesenian khas dari keempat keraton (Bedhaya Catur Sagotra (PB), Fragmen Gatutkaca-Suteja (HB) , Srimpi Moncer (MN), Beksan Floret (PA) juga Legong Gebyar dari Puri Agung Karangasem, Bali.

Perlu ditegaskan bahwa  pendirian Paguyuban Catur Sagotra Nusantara tidak berniat menghidupkan kembali feodalisme dan menguniformkan keraton, namun lebih sebagai usaha mempersembahkan (inkulturasi, sosialisasi dan aktualisasi) nilai-nilai kearifan dan adikarya budaya keraton yang beraneka warna, adiluhung dan unik sebagai living heritage bagi masyarakat, bangsa Indonesia dan dunia.

Diperlukan sebuah sistem kelembagaan yang modern dan berwawasan ke depan seperti Catur Sagotra Nusantara ini untuk sebuah pelestarian dan pengembangan peradaban. Selain  perlu hadirnya para pakar budaya dan akademisi untuk mengkaji kebudayaan keraton untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan bangsa Indonesia agar lebih beretika, bersusila dan berkepribadian luhur.

Lintasan Sejarah
Mengenai awal terbentuknya Catur Sagotra berawal pada tahun 2004 Raja Surakarta SISKS.  Paku Buwono XII (sebelum beliau wafat) pernah  memberi amanah kepada Ibu Nani Soedarsono  untuk melanjutkan  cita-cita luhur Catur Sagotra. Catur Sagotra adalah sebuah  gagasan bersama dari empat raja Jawa pada waktu itu yaitu (Sinuhun Pakubuwono XII, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Sri Paku Alam VIII dan Sri Mangku Nagoro VIII. Tujuan Catur Sagotra adalah untuk mempersatukan  keempat trah dalam ikatan kesamaan falsafah budaya dan keterkaitan sejarah leluhur Mataram.  Dalam perkembangannya Catur Sagotra menjadi cikal bakal Festival Keraton pada era Menteri Pariwisata dan Parpostel Joov Ave. Namun setelah itu tidak lembaga Catur Sagotra ini tidak lagi terdengar gaungnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dua tahun setelah menerima amanah ini Ibu Nani Soedarsono Pada tahun 2006 membentuk Tim Perintis Catur Sagotra di Jakarta yang terdiri dari: Ibu Mien Sugandhi, (Alm.) Bapak Giri Suseno. dll. Beliau-beliau itulah penggerak awal Catur Sagotra yang mengusahakan untuk mengeleminir segala perbedaan pandangan dari keempat trah dan menyatukannya dalam semangat kebersamaan dan keguyuban melalui berbagai pertemuan, yang kemudian ditingkatkan menjadi acara Silaturahmi Akbar di Senayan City pada tahun 2007 dan berikutnya pada awal tahun 2008 di Gedung SMESCO Departemen Koperasi di bawah pimpinan  Bapak KPH  Yuwono Kolopaking.
Kemudian pada akhir tahun 2009, Kanjeng Gusti Panembahan Harjo Mataram, meminta Ibu Nani Soedarsono  untuk segera membentuk Paguyuban Catur Sagotra sebagai lembaga yang lebih kuat sebagai lembaga hukum dengan akte notaris. Akhirnya di hadapan Notaris Ani Adriani Sukmayantini, S.H., M.M. pada 28 April 2012 secara resmi Paguyuban Catur Sagotra Nusantara mendapatkan akte notarisnya. *)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.