Kompas.com - 19/05/2013, 11:54 WIB
EditorReza Wahyudi

Sensor GPS, yang ditempatkan di sekitar garis pantai di negara-negara yang rentan tsunami, dapat melakukan pengukuran yang sangat tepat ketika getaran air menggeser dasar lautan.

Peneliti utama Dr Andreas Hoechner menjelaskan: "Dalam kasus gempa subduksi, satu lempeng di bawah lempeng lainnya".

"Hal ini diukur berdasarkan pergeseran lempeng itu. Perubahan formasi ini sebagian besar terjadi pada sumbernya, tapi wilayah pesisir pantai juga bakal terkena dampaknya. Di sinilah GPS menjadi berguna."

Dia mengatakan, informasi GPS dapat digunakan untuk melacak sumber gempa dan menghitung skala besarnya.

"Lalu Anda kemudian dapat memprediksi tsunami dan melihat seberapa tinggi gelombang yang diakibatkannya, dengan lebih akurat."

Proses ini menurutnya akan memakan waktu hitungan menit, yang akan memungkinkan peringatan dini dapat dikeluarkan lebih cepat.

Penyebaran peringatan

Dalam kasus tsunami 2011 yang menewaskan 16.000 orang di Jepang, teknologi dapat membuat perbedaan yang tajam.

Meskipun Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tiga menit setelah gempa, namun ini meremehkan skala besaran bencana tersebut.

Saat itu menunjukkan bahwa gempa itu berkekuatan 7,9, namun kenyataannya 30 kali lebih kuat.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.