Penataan Ulang Blok 3G Dimulai

Kompas.com - 28/05/2013, 12:43 WIB
EditorReza Wahyudi

KOMPAS/AGUS SUSANTO Antena base transceiver station (BTS)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring telah menandatangani Peraturan Menteri Kominfo Nomor 19 Tahun 2013 terkait tata ulang blok 3G di frekuensi 2.100MHz. Lima operator seluler pemegang lisensi 3G sudah bisa menata ulang frekuensi yang mereka miliki, mulai akhir Mei sampai Oktober 2013.

Penataan ulang ini perlu dilakukan agar blok 3G yang dimiliki setiap operator seluler bisa ditempatkan secara berdampingan supaya memberi layanan telekomunikasi yang optimal. Lima operator seluler tersebut adalah Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Axis dan Tri (3).

Kemenkominfo mengklaim telah menerapkan langkah pemindahan alokasi pita frekuensi radio yang paling sedikit dan mempertimbangkan jumlah BTS yang harus dilakukan pengaturan ulang.

Berikut adalah urutan blok 3G di frekuensi 2.100MHz yang sebelumnya dimiliki 5 operator seluler pemegang lisensi 3G:

 

Setelah digelar rapat khusus pada 28 Maret 2013 antara Kemenkominfo, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), dan para pemimpin 5 operator seluler GSM; semua pihak sepakat menata ulang blok 3G secara menyeluruh. Berikut urutan blok 3G setelah ditata ulang:

Dimulai dari Axis

Dalam siaran pers, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Gatot S. Dewa Broto menjelaskan, pemindahan alokasi blok 3G ini akan dimulai dari operator seluler Axis yang sebelumnya menempati blok 2 dan 3. Axis diminta pindah ke blok 11 dan 12.

Berikutnya adalah Tri yang menempati blok 6 harus pindah ke blok 2. Kemudian Indosat yang sebelumnya menempati blok 8 yang harus pindah ke blok frekuensi yang baru, yaitu blok 6.

Telkomsel dan XL Axiata yang mendapat blok 3G ketiga, juga harus memindahkan blok baru mereka. Telkomsel yang mendapat tambahan 3G di blok 11 harus memindahkannya ke blok 3. Begitu juga dengan XL yang pindah ke blok 8 dari sebelumnya di blok 12.

Sinyal Smart Telecom tidak boleh ganggu GSM

Dalam upaya mengoptimalkan jaringan seluler GSM, sinyal dari operator penyelenggara teknologi PCS1900, tidak boleh mengganggu sinyal operator seluler GSM dan harus memenuhi batas level emisi spektrum. Penyelenggara PCS1900 dalam hal ini adalah Smart Telecom.

Hal ini perlu dilakukan supaya sinyal Smart Telecom di frekuensi 1.900MHz tidak menginterferensi sinyal operator GSM di 2.100MHz. Interferensi terjadi karena perbedaan teknologi Personal Communication System (PCS) 1900 yang digunakan pada jaringan CDMA Smart Telecom dan teknologi Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) yang dipakai operator GSM.

Di sini Kemenkominfo berharap, baik operator GSM maupun Smart Telecom, dapat melakukan koordinasi jika terjadi gangguan yang dapat merugikan salah satu pihak.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X