Kompas.com - 25/06/2013, 12:08 WIB
EditorReza Wahyudi

Dari kasus itu, terlihat kemampuan teknologi dan kemampuan investasi berbasis dunia digital sudah dimiliki dan dikuasai tersangka atau pelaku kasus terorisme di Indonesia.

Direktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme P Golose pernah mengungkapkan, penggunaan internet untuk tujuan terorisme, khususnya pencarian dana melalui hacking situs investasi, merupakan fenomena baru dalam jaringan terorisme di Indonesia.

Polisi antiteror mengungkap modus yang diduga dilakukan jaringan terorisme untuk mencari dana melalui penetrasi dalam perdagangan mata uang asing di internet (foreign exchange trading) (Kompas, 23/6/2012).

Jaringan terorisme melalui kemampuan teknologi dan internet juga mampu merekrut orang-orang berpendidikan tinggi melalui berbagai propaganda. Bahkan, pelaku-pelaku teror dapat menggunakan kemajuan teknologi, seperti e-commerce atau e-banking, untuk menggerakkan jaringan terorisme.

Dalam persidangan, terdakwa perkara terorisme Barkah Nawa Saputra juga mengungkapkan, dirinya mempelajari bahan-bahan peledak dan membuat bom melalui majalah Inspire yang disebutkannya sebagai majalah dari jaringan Al Qaeda yang tersaji di internet.

Terdakwa kasus terorisme, Wendy Febriangga, juga mengatakan proses radikalisasi dalam dirinya muncul setelah melihat foto-foto yang diklaim sebagai korban konflik di dunia maya. Ia menilai, pengawasan internet, yang memuat artikel, gambar cara membuat bom, bahkan tayangan video pembuatan bom, sangat lemah. Di satu sisi, pemerintah gencar menangkap tersangka teroris.

Wendy juga mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak menertibkan atau melarang penyebaran cara pembuatan bom di internet. "Cukup dua jam, Bapak bisa jadi ahli bom," kata Wendy kepada majelis hakim.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kini semua serba terbuka difasilitasi kemajuan teknologi komunikasi. Tanpa "filter", pengawasan, kontrol, atau bimbingan dari orangtua, keluarga, rekan, masyarakat, termasuk kementerian terkait pemerintah, kemajuan teknologi dan internet dapat menyebarkan paham terorisme, dapat memperkuat terorisme, dan mengancam kemajuan itu sendiri. (Ferry Santoso)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.