Ditawar Rp 54 Triliun, BlackBerry Masih Bisa Nego

Kompas.com - 24/09/2013, 08:36 WIB
BlackBerry Aditya Panji/KompasTeknoBlackBerry
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
KOMPAS.comBlackBerry telah menandatangani letter of intent (perjanjian tentatif) untuk diakuisisi oleh sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Fairfax Financial Holdings, yang tak lain adalah pemegang saham terbesar BlackBerry, Senin (23/9/2013).

Meski demikian, BlackBerry masih punya waktu hingga 4 November 2013 untuk berpikir dan bernegosiasi dengan pihak lain yang mengajukan tawaran berbeda.

Pihak lain yang dikabarkan akan mengajukan penawaran terhadap BlackBerry adalah Mike Lazaridis, yang tak lain adalah pendiri dan mantan CEO BlackBerry. The New York Times melaporkan, Lazaridis mengulurkan tangan kepada Blackstone Group dan Carlyle Group untuk menyusun tawaran tersebut.

Dalam siaran pers, konsorsium yang dipimpin Fairfax menjelaskan akan mengakuisisi BlackBerry senilai 4,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 54 triliun. Para pemegang saham BlackBerry ditawarkan 9 dollar AS secara tunai untuk setiap lembar saham yang mereka miliki.

Konsorsium akan mengakuisisi uang tunai atas seluruh saham yang beredar di BlackBerry, tetapi tidak termasuk saham yang dimiliki Fairfax. Konsorsium akan mencari pendanaan dari BofA Merrill Lynch dan BMO Capital Markets.

Fairfax, yang memiliki sekitar 10 persen saham BlackBerry, merupakan perusahaan finansial asal Kanada yang bergerak di bidang asuransi, properti, investasi, dan sebagainya. Perusahaan ini didirikan dan dipimpin oleh Prem Watsa.

"Kami dapat memberikan nilai langsung kepada pemegang saham, sementara kita akan melanjutkan eksekusi strategi jangka panjang dalam bentuk perusahaan swasta yang fokus pada bisnis solusi korporasi yang unggul dan aman kepada pelanggan BlackBerry di seluruh dunia," tulis Prem Watsa dalam sebuah pernyataan.

Keluar dari bursa

Jika BlackBerry dan pemegang saham lainnya menyetujui tawaran dari konsorsium yang dipimpin Fairfax, maka BlackBerry akan menjadi perusahaan privat, di mana mereka tidak akan terdaftar di lantai bursa.

Analis Colin Gillis dari BGC Partners berpendapat, BlackBerry memang perlu menjadi perusahaan privat. "Mereka akan mampu restrukturisasi di luar perhatian publik, mengambil rencana jangka panjang, dan menjalankan perusahaan," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.

Halaman:


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X