Pendiri YouTube dan 'The American Dream'

Kompas.com - 21/12/2013, 18:06 WIB
Logo YouTube GoogleLogo YouTube
|
EditorWicak Hidayat
Bagian kelima (terakhir) dari seri Tiga Serangkai Pendiri YouTube.

KOMPAS.com - Chad Hurley dan Steven Chen menjadi orang yang paling populer dari YouTube. Bahkan ada satu masa masyarakat umum mengira pendiri YouTube hanyalah kedua orang itu saja. Padahal, ada pendiri ketiga bernama Jawed Karim.

Kisah Chen dan Karim, kedua orang keturunan Asia yang merupakan imigran di Amerika Serikat bagaikan menegaskan istilah "The American Dream". Istilah yang mengacu pada keyakinan bahwa, dengan bekerja keras siapapun bisa meraih impiannya di Amerika.

Chen adalah pria kelahiran Taipei, Taiwan. Saat usianya baru delapan tahun keluarga Chen pindah menjadi warga negara Amerika Serikat.

Jawed Karim adalah seorang pria kelahiran Jerman. Ayahnya seorang ilmuwan asal Bangladesh, sedangkan ibunya seorang peneliti asal Jerman.

Kedua pendiri YouTube itu adalah satu lagi dari banyak contoh The American Dream, yaitu impian banyak orang bahwa dengan pindah ke AS maka nasib dirinya (atau keturunannya kelak) bakal berubah. Tak jauh berbeda dengan fenomena "siapa suruh datang Jakarta" yang terjadi di Indonesia.

Karim bahkan contoh yang lebih 'ekstrim' karena keluarganya adalah keluarga campuran di Jerman Timur yang kemudian pindah ke Jerman Barat. Lalu, pada usia 13 tahun, keluarga Karim pindah ke AS. Berarti, kurang lebih, keluarga Karim telah menjadi imigran di tiga negara.

Chen dan Karim kemudian menjadi generasi yang tumbuh besar di AS. Latar belakang ilmiah ditambah etos bertahan hidup yang biasa terdapat pada keluarga imigran mau tidak mau telah melesatkan keduanya pada posisi yang tepat.

Mereka bertemu dengan Hurley di PayPal, ketiganya sama-sama tertarik pada sebuah bidang baru yang sedang berkembang. Ketika itu memang PayPal sedang giat-giatnya berinovasi, bahkan Karim dikatakan ikut mengembangkan teknologi anti-penipuan realtime yang digunakan PayPal.

Keluarga Chen dan Karim memang sukses memanfaatkan potensi yang ada dan meraih sukses bagi anak mereka di AS. Namun kisah sukses keluarga imigran itu belum tentu bisa diulangi oleh keluarga lain, bahkan banyak yang berakhir tragis.

Kisah kedua orang itu kini bisa menjadi pelajaran. Sesuatu yang mungkin bisa ditiru di Indonesia, tanpa harus menjadi imigran di negeri orang.

Tulisan ini adalah bagian dari seri Tiga Serangkai Pendiri YouTube, simak bagian lainnya:
1. Benarkah YouTube Berawal dari PayPal?
2. YouTube, Dimulai dari Gagal
3. Kekuatan Komunitas Roketkan YouTube
4. YouTube "Meledak", Pendirinya Kaya Mendadak
5. Pendiri YouTube dan "The American Dream"



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X