Kompas.com - 21/01/2014, 08:44 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
Penulis Oik Yusuf
|
EditorWicak Hidayat

KOMPAS.com - Potret diri atau "selfie" dengan berbagai macam ekspresi banyak menghiasi linimasa, newsfeed, atau update status di jejaring sosial. Fenomena yang telah lama ada sejak masa-masa awal fotografi ini semakin meluas dengan merebaknya social media dan gadget mobile berkamera.

Saking seringnya muncul, kata "selfie" sampai dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris Oxford pada 2013. Tapi kenapa gerangan kita (manusia) gemar memotret diri sendiri?

Pertanyaan ini coba dijawab oleh ahli ilmu syaraf James Kilner dari University College London. Dikutip oleh BBC, Kilner menjelaskan bahwa fenomena selfie berkaitan erat dengan citra yang dipersepsikan seseorang atas dirinya sendiri (self image).

Dalam pergaulan sehari-hari, kita banyak melihat dan menginterpretasikan wajah serta ekspresi wajah orang lain. Hal ini memang banyak berperan dalam interaksi sosial. Meski sering melihat dan memaknai wajah orang lain, kita jarang melihat wajah sendiri.

Alhasil, persepsi seseorang tentang ekspresi wajahnya kebanyakan berasal dari apa yang dirasakan ketika wajah bergerak membentuk ekspresi, tanpa melihat bentuk ekspresi tersebut yang sebenarnya dari kacamata orang lain.

Kita pun menjadi tak tahu seperti apa persisnya bentuk ekspresi wajah kita dalam berbagai situasi berbeda. Ujung-ujungnya, kita jadi sulit "mengenali" diri sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang diperlihatkan foto dirinya sedang menunjukan eksperesi tertentu (misalnya sedang marah atau terkejut), dia akan sulit menirukannya dengan akurat tanpa memandang diri sendiri melalui cermin.

Kurangnya pengetahuan mengenai penampilan diri ini juga mempengaruhi anggapan kita mengenai tampilan wajah kita di depan orang lain.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika seseorang diminta memilih foto yang paling mirip dirinya dari serangkaian foto wajah dia-yang telah dimanipulasi secara digital, sebagian agar terlihat lebih bagus, sebagian lagi sebaliknya-, orang tersebut kemungkinan besar akan memilih gambar yang salah. Dalam kebanyakan kasus, kita secara sistematis akan memilih foto yang paling bagus.

Dengan kata lain, kita membayangkan diri sendiri sebagai orang yang berpenampilan lebih menarik dari keadaan sebenarnya.

Inilah sebagian faktor yang bisa menjelaskan obsesi kita dengan selfie. Untuk pertama kali dalam sejarah, dengan dukungan aneka gadget, kita bisa menciptakan foto yang lebih dekat dengan bayangan kita mengenai diri sendiri.



Sumber BBC

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X