Pabrik Tablet Murah Bakal Berdiri di Batam

Kompas.com - 30/01/2014, 17:21 WIB
Dengan beroperasinya pabrik tersebut nanti, Wika Beton memiliki 11 pabrik dengan total kapasitas produksi 2,3 juta ton. Tahun lalu, kapasitas produksinya mencapai 2 juta ton dengan okupansi 93 persen. www.shutterstock.comDengan beroperasinya pabrik tersebut nanti, Wika Beton memiliki 11 pabrik dengan total kapasitas produksi 2,3 juta ton. Tahun lalu, kapasitas produksinya mencapai 2 juta ton dengan okupansi 93 persen.
Penulis Aditya Panji
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, mengatakan Indonesia sedang menyiapkan pabrik untuk memproduksi komputer tablet dengan harga terjangkau. Pabrik ini dibangun oleh pihak swasta.

Tifatul mengatakan, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) bekerjasama dengan beberapa pengusaha untuk membangun pabrik tersebut. Namun, ia tidak memberi informasi detail kapan dan di mana pabrik itu akan dibangun.

“Harga tablet yang diproduksi di sana diharapkan tidak lebih dari Rp 800.000. Tablet lokal dengan harga murah yang bisa dipakai mahasiswa,” kata Tifatul usai jumpa pers di Jakarta, Kamis (30/1/2014).

Untuk penyediaan komponen perangkat keras, itu menjadi hak produsen, apakah mereka ingin membuat sendiri atau memesan dari luar negeri. Tifatul mengatakan, penyedia perangkat keras dari China biasanya telah memproduksi komponen secara massal, sehingga harganya jadi lebih murah.

Tifatul memandang industri perangkat lunak di Indonesia sedang berkembang, yang ditandai bertumbuhnya perusahaan rintisan berbasis internet atau digital. Dari sisi perekonomian, lanjut Tifatul, industri perangkat lunak sangat menjanjikan.

“Jadi, hardware-nya tidak harus produksi sendiri. Kita bisa unggul dari sisi software atau aplikasi,” tutup Tifatul.

Ia menegaskan, Indonesia telah memiliki pabrik perakitan produk elektronik di Batam, Kepulauan Riau. Ada pula pabrik di Cileungsi, Bogor.

Produsen ponsel BlackBerry, memanfaatkan pabrik di Indonesia untuk memproduksi komponen baterai, earphone, dan motor yang berfungsi untuk menggetarkan ponsel (vibration).

Perusahaan pemanufaktur produk teknologi Foxconn asal Taiwan, memandang Indonesia berpotensi menjadi pusat manufaktur dunia, bahkan bisa menggantikan China. Chairman Foxconn, Terry Gou mengatakan, Indonesia akan menjadi prioritas utamanya untuk investasi di tahun ini.

Foxconn telah menandatangani kontrak kerjasama dengan BlackBerry untuk memproduksi ponsel pintar berbasis BlackBerry 10 di Indonesia. BlackBerry ingin memasarkan lebih banyak ponsel di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X