Lecehkan Indonesia, Din Tolak Ajakan Kedubes Singapura Tanding Futsal - Kompas.com

Lecehkan Indonesia, Din Tolak Ajakan Kedubes Singapura Tanding Futsal

Kompas.com - 10/02/2014, 20:57 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) Din Syamsudin, Mantan Ketua Bidang Internal Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Endang Tirtana, Politikus Partai Golkar Bambang Soesatyo dan pengamat politik Alfan Alfian (kanan ke kiri) hadir dalam diskusi di Kantor CDCC, Jakarta, Rabu (20/2/2013). Diskusi tersebut mengambil tema "Distrust Rakyat pada Partai Politik : Proyeksi Pemilu 2014".


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin menilai Pemerintah Singapura berlebihan dalam menyikapi rencana penamaan "KRI Usman Harun" pada salah satu kapal TNI Angkatan Laut. Din menyayangkan sikap Singapura itu.

"Singapura berlebihan itu, dan saya sangat sedih sekali kalau pemerintah diam saja. Ini adalah pelecehan terhadap harkat, martabat, dan kedaulatan kita," kata Din saat ditemui di Jakarta, Senin (10/2/2014).

Menurut Din, Indonesia punya hak untuk menamakan kapalnya dengan nama siapa pun yang dianggap sebagai pahlawan nasional. Negara lain, kata dia, tidak berhak mengganggu hak Indonesia itu.

"Apa urusannya dengan Singapura? Apalagi tingkahnya berlebihan membatalkan undangan untuk Wamenhan (Sjafrie Sjamsoeddin). Ini pelecehan. Jangan sampai Presiden diam saja. Kalau diam, berarti ada apa-apa," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Din, pemerintah harus bersikap tegas terhadap Singapura. Kementerian Luar Negeri harus segera memanggil Dubes Indonesia di Singapura untuk memberikan penjelasan.

"Saya terus terang tak bisa tutupi kekecewaan terhadap Singapura, negara kecil yang tidak bisa jadi sahabat baik," tambahnya.

Karena kekecewaannya itu, Din mengaku sampai membatalkan ajakan Kedutaan Besar Singapura kepada pengurus PP Muhammadiyah untuk bertanding futsal.

"Ada undangan 1 Maret (tanding) futsal dari Kedutaan Singapura. Kami tadinya mau ikut karena Muhammadiyah sering ikut dengan kedutaan asing. Saya mau ikut, tapi gara-gara ini, ya sudah saya sampaikan jangan ikut. Kita bersahabat dengan tetangga yang tidak baik," pungkasnya.

Seperti diberitakan, di tengah polemik penamaan KRI Usman Harun, Kementerian Pertahanan Singapura membatalkan pertemuan dialog pertahanan dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia yang sedianya akan digelar di Singapura bersamaan dengan acara kedirgantaraan, Singapore Airshow, 11-16 Februari 2014. Panglima TNI juga menerima pembatalan perihal undangan delegasi Indonesia ke Singapore Airshow yang jumlahnya mencapai 100 orang.

Karena Singapura membatalkan dialog bilateral itu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Minggu (9/2/2014) pagi, mendadak membatalkan kunjungannya ke Singapura yang semula direncanakan dimulai pada Minggu kemarin hingga Rabu (12/2/2014). Kementerian Pertahanan Singapura menolak untuk berkomentar terkait pembatalan pertemuan dialog antara militernya dan Indonesia.

TNI AL tetap teguh akan memakai nama KRI Usman Harun untuk salah satu fregat ringan yang tengah dipesan dari Inggris. Bagi TNI AL, keputusan itu final.

Usman Harun merupakan dua pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden 050/TK/1968. Usman bin Said dan Harun bin Muhammad Ali adalah prajurit KKO (kini Korps Marinir TNI AL) yang dihukum mati di Singapura karena mengebom gedung perkantoran di kawasan Orchard, MacDonald House, pada 10 Maret 1965.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisIhsanuddin
EditorSandro Gatra

Close Ads X