Waze Jadi Aplikasi Wajib Anti-Macet di Indonesia

Kompas.com - 12/02/2014, 09:56 WIB
Presiden Direktur Blue Bird Group Noni Purnomo (kiri) dan Direktur Penjualan Waze untuk kawasan Asia Pasifik dan Eropa, Eleanne Hattis (tengah) dalam diskusi Advertising Platform in Location Based Media yang digelar Asia Pacific Media Forum (APMFx) di Jakarta, Selasa (11/2/2014) yang dipandu Direktur Kompas.com Edi Taslim (kanan). Aditya Panji/Kompas.comPresiden Direktur Blue Bird Group Noni Purnomo (kiri) dan Direktur Penjualan Waze untuk kawasan Asia Pasifik dan Eropa, Eleanne Hattis (tengah) dalam diskusi Advertising Platform in Location Based Media yang digelar Asia Pacific Media Forum (APMFx) di Jakarta, Selasa (11/2/2014) yang dipandu Direktur Kompas.com Edi Taslim (kanan).
Penulis Aditya Panji
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya smartphone di Indonesia mendorong tingginya penggunaan layanan berbasis lokasi. Layanan semacam ini berhasil mencuri perhatian pengguna perangkat ponsel di Indonesia, karena dianggap memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut survei yang dilakukan lembaga riset TNS, sebanyak 70 persen dari total pengguna seluler di Indonesia mengaku berminat menggunakan layanan berbasis lokasi. Hanya 25 persen yang tidak tertarik.

Aplikasi Waze, merupakan salah satu contoh aplikasi digital berbasis lokasi yang cukup banyak dipakai pengguna smartphone di Indonesia. Waze kerap digunakan sebagai aplikasi wajib untuk digunakan untuk memandu perjalanan hingga menghindari kemacetan.

Waze dimanfaatkan pengguna di Indonesia untuk berbagi informasi dan mengetahui situasi lalu lintas, dengan memanfaatkan fitur GPS. Tak heran jika Indonesia masuk dalam 10 besar pengguna Waze secara global.

Dalam diskusi Advertising Platform in Location Based Media yang digelar Asia Pacific Media Forum (APMFx) di Jakarta, Selasa (11/2/2014), Direktur Penjualan Waze untuk kawasan Asia Pasifik dan Eropa, Eleanne Hattis menjelaskan, Waze dapat merekomendasikan rute berdasarkan jarak dan kondisi macet yang dilaporkan para pengguna.

Jika ada jalur warna merah, berarti sedang terjadi kemacetan di sana berdasarkan laporan dari pengguna.

Laporan macam ini disebut laporan aktif. Sedangkan yang disebut laporan pasif, pengguna tak harus melaporkan kondisi jalur yang dilewati. Dengan mengaktifkan Waze dan menentukan tempat tujuan, sudah berupa laporan pasif yang merekam data kecepatan rata-rata.

Dari manakah Waze mendapatkan uang? Layanan ini membuka lapak iklan. Ketika pengguna mencari sebuah lokasi, misalnya, bisa muncul iklan toko retail di sekitar daerah tujuan pengguna. Jika pengguna meng-klik iklan tersebut, maka Waze akan mendapat keuntungan. Bukan hanya itu, pengiklan juga dapat menawarkan voucher digital yang dapat ditukarkan di toko retail tersebut.

Waze kini memiliki 78 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Pada November 2013, jumlah pengguna Waze di Indonesia telah mencapai 750.000 pengguna.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X