Sadap Indonesia, AS dan Australia "Endus" Rokok dan Udang

Kompas.com - 17/02/2014, 09:35 WIB
Cerutu produksi PD Taru Martani, Yogyakarta, Selasa (26/3/2013). Taru Martani mulai beroperasi sejak 1918, hingga kini produk cerutunya diekspor antara lain ke Swis, Turki, Amerika, Yunani, Vietnam, dan Malaysia. KOMPAS IMAGES / KRISTIANTO PURNOMOCerutu produksi PD Taru Martani, Yogyakarta, Selasa (26/3/2013). Taru Martani mulai beroperasi sejak 1918, hingga kini produk cerutunya diekspor antara lain ke Swis, Turki, Amerika, Yunani, Vietnam, dan Malaysia.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
WASHINGTON, KOMPAS.com - Buletin Badan Keamanan Nasional (NSA) yang dibocorkan Edward Snowden mengungkap soal pemantauan terhadap biro hukum di Amerika Serikat yang mewakili Pemerintah Indonesia dalam sengketa dagang dengan negara Paman Sam.

Sengketa terkait perdagangan tembakau, rokok kretek, dan udang, diduga bagian dari informasi yang disadap lembaga itu.

Buletin tersebut memang tak mengindentifikasi biro hukum yang mereka pantau terkait layanan kepada Pemerintah Indonesia. Namun, diketahui bahwa Biro Mayern Brown pada rentang pemantauan NSA yang menggandeng Direktorat Sinyal Departemen Pertahanan (DSD) Australia itu sedang mewakili Pemerintah Indonesia dalam sengketa terkait rokok, tembakau, dan udang.

Bila sengketa terkait tembakau dan rokok menyoal batas maksimum kandungan zat kimia di dalamnya, maka sengketa dagang soal udang terkait dengan dugaan harga produk Indonesia dijual lebih murah dibandingkan harga pasar.

Atase Perdagangan dan Industri Indonesia di Washington, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan Pemerintah Indonesia masih mempertahankan biro Mayer Brown mewakili kepentingan Indonesia terkait sengketa rokok dan udang.

Namun, dia mengatakan belum ada keputusan soal penggunaan firma itu untuk mewakili Indonesia terkait sengketa perdagangan hortikultura dan hewan.

Duane Layton, salah satu pengacara Mayer Brown di Washington, mengatakan sejak 2010 dia memimpin sebuah tim dari perusahaannya mewakili Indonesia dalam sengketa rokok kretek. Sementara kasus udang dipimpin koleganya di kantor Washington juga, Matthew McConkey.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kedua kasus, kata Layton, masih berjalan ketika DSD yang belakangan berganti nama menjadi Direktorat Sinyal Australia (ASD) menyadap pembicaraan petinggi Indonesia dengan pengacara dari firma hukum Amerika Serikat itu.

Meski demikian, kata Layton, kalaupun pembicaraan e-mail dan telepon pejabat Indonesia dan firmanya disadap, dia berkeyakinan para mata-mata itu justru akan bosan sendiri. "Tak satu pun dari hal-hal ini yang sangat seksi," ujar dia. "Ini hanya soal menjalankan pabrik."

Menurut Layton, para pengacara Mayer Brown termasuk dirinya melakukan sebagian besar pekerjaan mereka terkait sengketa perdagangan ini dari Washington. Sesekali, ujar dia, mereka membuat perjalanan ke Jakarta dan Geneva yang menjadi basis Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.