Sebulan, "Apapun.id" Diserbu 310 Pemegang Merek

Kompas.com - 18/02/2014, 13:20 WIB
Domain .id Aditya Panji/KompasTeknoDomain .id
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak 20 Januari 2014, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia ( Pandi) telah membuka pendaftaran dan pembelian nama domain internet dengan akhiran .id (baca: dot id), atau populer disebut "Apapun.id." Selama hampir sebulan, sudah ada 310 pemegang merek yang mendaftarkan nama domain .id.

Dari jumlah tersebut, baru ada 182 nama domain yang disetujui karena telah memenuhi syarat, dan hingga Senin (17/2/2014), sebanyak 125 nama domain .id di antaranya sudah dibayar oleh pihak yang mendaftarkan.

Ketua Pandi Sigit Widodo menjelaskan, 125 nama domain .id yang sudah dibayarkan itu telah dipublikasi di situs web www.domain.id. Situs ini merupakan tempat bagi siapa saja yang ingin mendaftarkan dan membeli domain .id, yang juga menjelaskan syarat, biaya, serta informasi lainnya.

Saat ini, pendaftaran dan pembelian domain .id berada dalam periode Sunrise, yang berakhir pada 17 April 2014. Pada periode ini, Sigit menghimbau para pemegang merek mendaftarkan nama domain .id sesuai dengan merek yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM, untuk menghindari sengketa nama domain .id di kemudian hari.

"Sunrise merupakan periode khusus untuk pemegang merek. Setelah periode Sunrise berakhir, pemegang merek tidak lagi menjadi prioritas. Dan jika nanti terjadi sengketa, kami terpaksa harus melakukan lelang," kata Sigit saat dihubungi KompasTekno.

Sengketa nama domain terjadi jika ada dua pihak yang mendaftarkan nama domain .id yang sama. Nah, di periode Sunrise ini, Sigit memprediksi potensi terjadi sengketa nama domain hanya 1 persen.

Potensi sengketa di periode Grandfather dan Landrush

Setelah Sunrise, akan ada periode kedua, yaitu Grandfather, dan periode ketiga, yaitu Landrush. Sigit memprediksi potensi sengketa di Grandfather dan Landrush akan semakin besar.

Di periode Grandfather, pemegang merek memang masih bisa membeli nama domain .id. Namun, individu atau perorangan yang sudah memiliki second level domain .id, seperti web.id dan my.id, juga diperbolehkan mendaftarkan domain .id. Jadi, periode Grandfather ini khusus digelar untuk para pemegang second level domain yang sudah ada, termasuk .co.id, .or.id, .go.id, .ac.id, sch.id.

Sigit memberi contoh potensi sengketa nama domain di Grandfather. Misalnya, seseorang bernama Sony Kurniawan memiliki domain sony.my.id untuk blog pribadinya. Lalu ia daftar untuk mendapatkan domain sony.id. Sementara itu, produsen alat elektronik Sony yang memiliki domain sony.co.id, juga mengincar sony.id. Dalam kasus ini, keduanya sama-sama berhak mendapatkan domain sony.id.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X