Kompas.com - 04/03/2014, 13:41 WIB
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
KOMPAS.com - Menteri Keuangan Jepang Taro Aso masih mencari tahu penyebab tutupnya bursa bitcoin terbesar di dunia, Mt. Gox, yang berbasis di Tokyo. Apakah ini murni kebangkrutan atau ada kejahatan siber?

"Kami masih belum memiliki pemahaman yang jelas tentang situasi ini," kata Aso seperti dikutip dari Reuters, Selasa (4/3/2014). "Kami tidak tahu apakah itu adalah kejahatan atau hanya kebangkrutan."

Mt. Gox mengajukan perlindungan kebangkrutan ke Pemerintah Jepang pada 28 Februari 2014. Perusahaan mengaku kehilangan total 850.000 bitcoin yang nilainya hampir 500 juta dollar AS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 750.000 bitcoin adalah milik nasabah dan 100.000 bitcoin lainnya adalah aset perusahaan.

CEO Mt. Gox Mark Karpeles mengungkapkan bahwa kebangkrutan itu disebabkan karena lemahnya sistem keamanan sehingga ada peretas yang masuk dalam sistem dan mencuri bitcoin.

Mt. Gox memiliki kewajiban utang sebesar 63,9 juta dollar AS, jauh melebihi total aset saat ini yaitu 37,7 juta dollar AS. Dalam dokumen kebangkrutan Mt. Gox tercatat, ada 127.000 kreditor dan sebanyak 1.000 kreditor di antaranya berasal dari Jepang.

Sejak 7 Februari 2014, Mt. Gox menangguhkan transaksi nasabah karena bursa itu mendeteksi ada aktivitas yang tidak biasa pada sistem mereka.

Kemudian pada 25 Februari 2014, Mt. Gox menutup situs web dan mengosongkan kicauan di akun Twitter. Perusahaan mengklaim terpaksa menutup situs web untuk melindungi data pengguna.

Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat sempat mengusulkan agar ada kerjasama dan regulasi internasional yang mengatur tentang bitcoin. Namun, bitcoin selama ini bersifat desentralisasi. Artinya, tidak ada lembaga keuangan, bank sentral, atau pemerintah yang mengatur bitcoin dan segala aktivitasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.