Kompas.com - 06/03/2014, 09:09 WIB
Jajaran direksi Smartfren (dari kiri ke kanan): Direktur Keuangan Antony Susilo, Presiden Direktur Rodolfo Pantoja, Deputy CEO Djoko Tata Ibrahim, Direktur Jaringan Merza Fachys Aditya Panji/KompasTeknoJajaran direksi Smartfren (dari kiri ke kanan): Direktur Keuangan Antony Susilo, Presiden Direktur Rodolfo Pantoja, Deputy CEO Djoko Tata Ibrahim, Direktur Jaringan Merza Fachys
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com - Smartfren memang tertarik mengadopsi teknologi jaringan nirkabel generasi keempat (4G) Long Term Evolution (LTE). Namun, untuk sekarang hingga beberapa tahun mendatang, Smartfren masih akan mengandalkan teknologi code division multiple access (CDMA).

Smartfren meyakini teknologi CDMA yang diusungnya masih bertahan lama kendati 4G LTE sedang menggempur pasar global. Direktur Jaringan Smartfren Merza Fachys, memberi contoh, di mana teknologi 2G masih bertahan hingga kini meskipun adopsi 3G terus meningkat.

“Teknologi memang harus terus kita ikuti untuk komunikasi global, tapi (teknologi) yang lama tetap kita pegang,” ujar Merza dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (5/3/2014).

Ketika ditanya kapan Smartfren akan beralih ke 4G LTE, Merza belum punya jawaban pasti karena semua itu menunggu regulasi dari pemerintah.

Perusahaan masih fokus meningkatkan kualitas layanan data (internet) dan memperluas jangkauannya, karena data menjadi sumber pendapatan utama. Dari total pendapatan Rp 2,4 triliun pada 2013, sebesar 70 persen disumbang dari layanan data. Secara keseluruhan, pendapatan Smartfren di 2013 tumbuh hampir 50 persen dibandingkan 2012 yang mencapai Rp 1,649 triliun.

Keterbatasan jumlah perangkat CDMA

Industri telekomunikasi CDMA saat ini menemukan kendala di mana makin sedikit importir yang mau membawa ponsel pintar atau tablet yang mendukung CDMA. Sebagian besar importir hanya mau membawa perangkat GSM.

Karena itu, Smartfren menjadikan dirinya sebagai importir ponsel dan tablet di bawah merek dagang Andromax untuk menjaga ekosistem CDMA serta meningkatkan jumlah pelanggan dan pendapatan. Usaha itu tak sia-sia, jumlah aktivasi perangkat Andromax pada bulan Februari mencapai 300 ribu.

Smartfren juga berhasil menjadi importir ponsel pintar terbesar kedua di Indonesia sejak 2013. Prestasi tersebut dipertahankan Smartfren hingga kuartal empat 2014 dengan mengirimkan sekitar 581 ribu unit ponsel pintar, menurut data lembaga riset IDC.

Sepanjang 2013, Smartfren mengklaim telah mengirimkan 1,2 juta unit ponsel pintar Andromax di Indonesia. Sementara untuk tahun 2014, perusahaan menargetkan dapat mengimpor 4 juta unit ponsel pintar.

Kesuksesan Andromax dinilai Merza tak lepas dari kebutuhan pasar atas perangkat yang dibanderol dengan harga terjangkau.

Merza berpendapat ada celah pasar di mana konsumen cenderung tidak mementingkan sebuah merek ataupun teknologi. “Ada yang tidak peduli dengan merek dan teknologi di belakangnya. Yang mereka mau adalah kepuasan dan kenyamanan,” tuturnya seraya mengatakan Smartfren akan memanfaatkan celah pasar itu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X