Kompas.com - 25/03/2014, 09:27 WIB
|
EditorReza Wahyudi

Lalu bagaimana Inmarsat bisa menentukan lokasi MH370 berada di Samudra Hindia? Walau PM Najib Razak mengatakan metode yang digunakan dalam mencari MH370 belum pernah digunakan sebelumnya, metode tersebut sebenarnya bukanlah metode benar-benar baru.

"Kami mempelajari efek Doppler, yaitu efek perubahan frekuensi akibat pergerakan satelit dalam orbit Bumi yang tidak sepenuhnya berbentuk bulat," ujar Chris McLaughlin, Senior Vice President of External Affairs Inmarsat, seperti dikutip dari The Telegraph, Senin (24/3/2014).

Inmarsat kemudian melakukan analisis lebih lanjut dengan mengumpulkan lebih banyak model data efek Doppler dari pesawat yang terbang ke utara dan selatan.

Dengan mempelajari dua model data tersebut, dan membandingkannya dengan data pergerakan pesawat lain yang memiliki trajectory (pergerakan pesawat mengikuti lengkung Bumi) yang sama, Inmarsat menyimpulkan bahwa pola terbang ke selatan lebih cocok dengan data ping yang didapat dari MH370.

Data ping tersebut kini mempersempit luas pencarian MH370 menjadi hanya 3 persen dari keseluruhan koridor selatan di Samudra Hindia yang harus disisir.

"Kami berhasil mengetahui dari mana pesawat mengirim ping terakhirnya, dan kami juga telah memperhitungkan bahwa di titik tersebut pesawat sudah kehabisan bahan bakar, dan tidak akan bisa mengirim ping otomatis selanjutnya," terang McLaughlin.

Walau demikian, McLaughlin belum bisa mengatakan apakah setelah kehabisan bahan bakar, pesawat tersebut bisa mendarat di air dengan selamat atau tidak. Namun, foto satelit dari beberapa negara saat ini dilaporkan memotret serpihan-serpihan yang diduga milik Boeing 777-200 Malaysian Airlines di selatan Samudra Hindia.

Itulah data yang dijadikan sebagai dasar bagi PM Najib Razak untuk mengeluarkan pernyataan bahwa penerbangan MH370 berhenti di sebelah selatan Samudra Hindia. Pernyataan tersebut masih berdasar pada data satelit, sementara bukti MH370 jatuh di laut belum dikonfirmasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.