Twitter Beli Perusahaan Penyedia Data Sosial

Kompas.com - 17/04/2014, 14:24 WIB
Sebuah poster bergambar logo Twitter menghiasi gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) sebelum Twitter menjual saham perdananya ke publik, Kamis (7/11/2013).
Kathy Willens/AP PhotoSebuah poster bergambar logo Twitter menghiasi gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) sebelum Twitter menjual saham perdananya ke publik, Kamis (7/11/2013).
Penulis Aditya Panji
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Twitter mengumumkan bahwa mereka telah membeli perusahaan penyedia data sosial, Gnip, untuk nilai yang tidak diungkap, Selasa (15/4/2014). Saham Twitter melonjak berkat pengumuman ini karena data sosial diyakini sangat diminati oleh segmen korporasi dan pemerintah.

Saham Twitter berada di harga 45,52 dollar AS pada penutupan perdagangan hari Selasa, bergerak naik 4,65 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Twitter mengatakan dalam publikasi di blog bahwa kesepakatan dengan Gnip memungkinkan mereka menggali analisis lebih dalam tentang 500 juta kicauan per hari yang dilontarkan penggunanya.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco, California, AS, ini sebelumnya memanfaatkan data milik perusahaan pihak ketiga, yakni Datasift dan Dataminr, untuk membeli data analisis kicauan dan menjualnya kembali ke segmen korporasi.

"Kicauan dari publik dapat mengungkap berbagai wawasan. Begitu banyak lembaga akademisi, jurnalis, pemasar, merek, politisi, dan pengembangan, yang secara teratur menggunakan dan mengumpulkan data Twitter untuk melihat tren, menganalisa sentimen, mencari berita, berhubungan dengan pelanggan, dan banyak lagi," kata Jana Messerschmidt, Wakil Presiden Twitter.

Gnip didirikan pada 2008. Mereka telah bekerja sama dengan Twitter selama empat tahun, namun juga menyediakan data sosial untuk konten di Tumblr, Wordpress, Reddit, Instagram, dan Foursquare.

Ryan Sarver, mantan direktur platform Twitter dan sekarang bekerja untuk perusahaan pemodal Redpoint Ventures, mengatakan akuisisi ini bisa segera meningkatkan pendapatan Twitter. Karena, ada ratusan klien di bidang keuangan, media massa, dan pemerintah, yang memanfaatkan data Twitter dan mau membayar demi mendapatkan data tersebut.

"Ada nilai laten besar dalam linimassa Twitter," ungkap Ryan, seperti dikutip dari Reuters.



Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X