Kompas.com - 23/04/2014, 16:20 WIB
EditorWicak Hidayat
Penulis: Ryota Inaba*

KOMPAS.com - Semakin hari, berbelanja kebutuhan sehari-hari semakin membuat frustasi bagi Tresyana Maki yang berusia 29 tahun. Karena lalu lintas yang padat di jalanan, untuk hanya bepergian sejauh empat kilometer dari rumahnya di Cisalak, Depok ke supermarket terdekat di Cibubur, Jakarta Timur ia membutuhkan setidaknya satu jam, hampir dua kali lipat dari waktu yang dibutuhkan di awal 2000-an untuk menempuh rute yang sama. Bahkan angkutan umum lambat dan tidak dapat diandalkan dengan layanan yang tidak konsisten dan bis-bis yang sudah rusak.

Akibatnya, Tresyana saat ini menghabiskan sekitar Rp 1 juta per bulan untuk berbelanja online untuk berbagai keperluan mulai dari makanan sampai peralatan dapur dan aksesoris mobil, hanya untuk menyelamatkan dirinya agar tidak frustrasi dan menghemat uang bensin, serta menghindari kemacetan lalu lintas selama satu jam.

Ia lebih suka fleksibilitas untuk dapat membeli kebutuhan rumah tangganya di mana saja, kapan saja, dan juga memberikan lebih banyak waktu untuk bersama dengan anak-anaknya.

Bagi Tresyana dan banyak konsumen lain sepertinya, manfaat dari belanja online terlalu bagus untuk dilewatkan. Apakah itu akses ke ratusan ribu produk, kemudahan pembayaran, pengiriman gratis dan cepat, atau penghematan waktu yang signifikan, yang pasti belanja online adalah cara berbelanja yang lebih mudah (dan lebih tidak membuat stress).

Tidak mengherankan bahwa masyarakat Indonesia telah menjadi pendukung besar dari belanja online di Indonesia. Menurut Ideosource, sebuah perusahaan modal ventura di Indonesia, nilai e -commerce di Indonesia meningkat dari US$ 266 juta pada tahun 2012 menjadi US$ 478 juta pada tahun 2013, dan nilai tersebut diperkirakan akan melonjak menjadi US $ 736 juta pada akhir tahun 2014.

Sayangnya, tidak semua orang siap untuk menerima perubahan ini. Menurut pelaku industri e-commerce, dua rintangan besar yang mereka hadapi adalah kurangnya kepercayaan publik, yang didorong oleh penipuan di dunia maya, dan kurangnya infrastruktur pembayaran yang memadai.

Tidak seperti negara-negara maju yang memiliki kartu kredit sebagai sistem pembayaran bersama mereka, penetrasi kartu kredit di Indonesia masih berada di sekitar 15 %. Pelaku E -commerce harus mencari alternatif metode pembayaran untuk membantu mereka menjangkau lebih banyak konsumen.

*Tentang Penulis: Ryota Inaba adalah Presiden Direktur dan CEO Rakuten Belanja Online,

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.