Kompas.com - 14/05/2014, 08:39 WIB
Ilustrasi mengetik SMS Tabita Diela/Kompas.comIlustrasi mengetik SMS
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com - Butuh waktu lama bagi Telkom Flexi dan Indosat StarOne untuk beralih teknologi dari Code Division Multiple Access (CDMA) ke Extended-Global System for Mobile (E-GSM). Hal ini disebabkan belum adanya regulasi untuk menerapkan teknologi netral di spektrum frekuensi 850MHz yang dimiliki kedua layanan tersebut.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Muhammad Budi Setiawan mengatakan, permintaan alih teknologi Flexi dan StarOne paling cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 sampai 3 tahun mendatang.

Menurutnya, Indosat bisa lebih cepat alih teknologi karena merek StarOne berada di bawah Indosat. Sedangkan Telkom, yang rencananya akan mengalihkan pelanggan Flexi ke Telkomsel, butuh waktu lebih lama lantaran Telkom dan Telkomsel merupakan dua entitas yang berbeda.

“Telkom tidak bisa migrasi dan mengalihkan frekuensi begitu saja ke Telkomsel, karena mereka beda entitas. Kecuali mereka join. Operasional dibantu Telkomsel, sementara jaringan tetap dimiliki Telkom untuk roaming,” jelas Budi saat ditemui di Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Sejauh ini Kemenkominfo baru membuat aturan teknologi netral di spektrum frekuansi 900MHz dan 2.300MHz. Sementara di spektrum 850MHz, belum ada aturan itu.

Teknologi netral memungkinkan keleluasaan penggunaan spektrum frekuensi yang dimiliki operator telekomunikasi. Misalnya, spektrum 850MHz yang selama ini dimanfaatkan untuk jaringan CDMA, dapat digunakan untuk menggelar jaringan E-GSM.

Indosat sebenarnya menginginkan agar StarOne dapat memanfaatkan spektrum 900MHz, karena mereka telah mendapatkan izin teknologi netral di frekuensi tersebut.

Hambatan

Namun, rencana peralihan teknologi Flexi dan StarOne ini akan terkendala sejumlah masalah yang mungkin akan mengganggu kenyamanan pelanggan. Pertama, pelanggan harus mengganti perangkat dengan ponsel yang mendukung GSM.

Dalam hal ini, Budi pernah berkata sebaiknya operator telekomunikasi bisa memberi subsidi perangkat untuk pelanggan.

Kedua, masalah penomoran. Besar kemungkinan nomor ponsel pelanggan akan berganti karena Flexi dan StarOne memegang lisensi Fixed Wireless Access (FWA) atau Telepon Tetap Nirkabel, yang berarti layanan mobilitasnya terbatas.

Sistem penomoran Flexi dan StarOne menggunakan nomor telepon tetap berdasarkan geografis atau dikenal dengan nomor telepon rumah yang memakai kode area seperti “021” untuk Jakarta atau “022” untuk Bandung.

Sementara teknologi GSM atau seluler, dengan layanan mobilitas tak terbatas, sistem penomorannya menggunakan standar National Destination Code (NDC), seperti awalan "0812" untuk nomor telepon Telkomsel Simpati, "0815" untuk Indosat Mentari, atau 0818 untuk XL Axiata.

Masalah ketiga adalah interferensi. Frekuensi 850 MHz selama ini digunakan untuk menggelar layanan berbasis CDMA oleh operator pemegang lisensi FWA. Nah, jika kemudian ada operator telekomunikasi yang menggelar GSM di 850 MHz, diprediksi akan terjadi interferensi di mana sinyal suatu operator akan mengganggu sinyal operator lain.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.