Pendiri WhatsApp Bicara Libur dan Mati Rasa

Kompas.com - 05/06/2014, 17:27 WIB
Salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton, saat berbincang santai di Start X, Palo Alto, California, AS, Rabu (4/6/2014) waktu setempat. Startx/Paul SakumaSalah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton, saat berbincang santai di Start X, Palo Alto, California, AS, Rabu (4/6/2014) waktu setempat.
|
EditorWicak Hidayat

Acton mengatakan WhatsApp dari awal berusaha membangun kultur pekerjaan di waktu normal. Hal ini membuat mereka yang tertarik bekerja di sana bukan hanya yang berjiwa mahasiswa dan gemar lembur, tapi juga mereka yang sudah lebih mapan dan mungkin berkeluarga.

Tentunya, ini bukan berarti mereka anti lembur. "Kami tidak mengharapkan karyawan untuk selalu lembur, namun jika ada yang lembur akan selalu mendapat apresiasi," ujarnya.

Kepada karyawannya, Acton juga memberikan kemudahan-kemudahan. Misalnya dalam hal berpakaian yang tidak harus resmi. Hal ini menurutnya akan memudahkan bagi mereka yang baru lulus, karena tak perlu banyak mengubah gaya berpakaian.

Selain itu, lokasi kantornya di Mountain View memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya, ujar Acton, kantornya dekat dengan jalan Castro di mana ia sewaktu mahasiswa sering makan mie.

Ia juga mengatakan lokasi kantor mereka dekat dengan stasiun kereta, sehingga karyawan yang ingin tinggal di San Francisco bisa menggunakan kereta. "Kami bahkan menyediakan MiFi buat mereka, agar bisa tetap terkoneksi dan bekerja di kereta," ujar Acton.

Mati Rasa

Kemunculan Acton di StartX, Palo Alto, California, AS, adalah pertamakalinya ia muncul di publik sejak WhatsApp dibeli Facebook seharga 19 milliar dollar AS.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tanpa bermaksud mengutip gaya pertanyaan yang biasa dilontarkan wartawan televisi tertentu: Bagaimana perasaan Acton setelah akuisisi itu?

Ia mengaku belum benar-benar merasakannya. "Saya masih bengong. Masih mati rasa," ujarnya.

Salah satunya karena, pada saat yang hampir bersamaan dengan akuisisi itu, Acton baru memiliki anak pertamanya. Secara emosional, Acton mengakui bahwa kelahiran anaknya itu menutupi perasaannya pada akuisisi yang terjadi.

Lagipula, Acton melanjutkan, akuisisi itu belum tuntas. "Belum selesai sepenuhnya. Jika sudah, saya bayangkan, pertama-tama akan ada perasaan lega," tuturnya.

"Saya akan merasakan (dampak akuisisi) itu secara bertahap. Saya yakin hal itu akan mengubah hidup saya," Acton melanjutkan.

Sedangkan saat ini, Acton menggambarkan proses yang terjadi sebagai sesuatu yang sangat merepotkan. Misalnya, ia dan Koum harus berhadapan dengan banyak pengacara, berjam-jam berdiskusi soal aspek legalnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.