Kompas.com - 23/06/2014, 08:44 WIB
Calon Presiden nomor urut 2 Joko Widodo memberikan jawaban dalam debat capres 2014 putaran ketiga, di Hotel Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/6/2014). Debat capres kali ini mengangkat tema 'Politik Internasional dan Ketahanan Nasional'. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESCalon Presiden nomor urut 2 Joko Widodo memberikan jawaban dalam debat capres 2014 putaran ketiga, di Hotel Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/6/2014). Debat capres kali ini mengangkat tema 'Politik Internasional dan Ketahanan Nasional'.
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com — Calon presiden nomor urut dua, Joko Widodo, mengatakan akan membeli kembali saham Indosat jika ia terpilih menjadi presiden karena perusahaan itu dinilai sebagai aset strategis yang mengelola satelit untuk pertahanan nasional.
 
Dalam debat capres putaran ketiga, Minggu (22/6/2014), Jokowi mendapat pertanyaan dari calon presiden nomor urut satu, Prabowo Subianto, tentang penjualan Indosat yang dilakukan pada masa pemerintahan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri.
 
"Apabila Bapak menjadi presiden, apakah akan membeli kembali Indosat atau bagaimana?" tanya Prabowo.
 
"Ke depan, saya kira kuncinya cuma satu, yaitu kita buyback (Indosat-red). Kita ambil kembali saham itu dan menjadi milik kita lagi. Oleh sebab itu, ke depan, ekonomi kita harus di atas 7 persen," jawab Jokowi.
 
Indosat dipandang punya peran penting dalam mengoperasikan satelit yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak atau drone. Jokowi berharap, drone tersebut bisa digunakan untuk mengawasi kepulauan dan perairan Indonesia.
 
"Drone-nya bisa kita beli sekarang dan alih teknologinya bisa kita lakukan. Satelitnya pun bisa sekarang nebeng dulu, tapi harus ada target punya satelit sendiri pada suatu saat. Ada targetnya," tambah Jokowi.

Direktur Utama dan CEO Indosat, Alexander Rusli , mengaku netral dengan rencana pembelian kembali saham perusahaan oleh pemerintah dan menyerahkan sepenuhnya kepada para pemegang saham.

"Jual beli atau akuisisi itu shareholder matter. Tugas direksi memberikan shareholder value kepada pemegang saham. Jadi, kita netral saja," ujar Alexander saat dihubungi KompasTekno.

Satelit

Indosat sebelumnya mengelola dua satelit di slot orbit 113 derajat bujur timur (BT) dan 150,5 derajat BT. Alexander mengatakan, slot orbit 150,5 derajat BT bakal diambil alih oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) mulai 1 September 2015. BRI menjadi bank pertama di dunia yang mengelola slot orbit satelit setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika mengeluarkan surat alih kelola slot orbit pada Maret 2014.

Ini berarti, Indosat hanya diberi kepercayaan mengelola slot orbit 113 derajat BT yang ditempati Satelit Palapa D hingga 2024 untuk layanan penyiaran, seluler, data (internet) yang dipakai oleh grup bisnis Indosat sendiri maupun disewakan ke pihak lain.


Indosat didirikan pada 1967 dan mulai beroperasi pada 1969. Kala itu, perusahaan mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan dan tujuan bisnis.
 
Pemerintah Indonesia membeli seluruh saham Indosat pada 1980 dan resmi menjadi badan usaha milik negara (BUMN).
 
Pada 1994, Indosat mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan Bursa Efek New York, Amerika Serikat. Kala itu, Pemerintah Indonesia masih memiliki 65 persen saham di Indosat.
 
Pada akhir 2002, pemerintah menjual 40 persen lebih sahamnya di Indosat ke Singapore Technologies Telemedia (STT) asal Singapura. Kemudian, pada Juni 2008, STT menjual seluruh sahamnya di Indosat kepada Qatar Telecom asal Qatar (yang kini bernama Ooredoo).
 
Qatar Telecom meningkatkan kepemilikan sahamnya di Indosat menjadi 65 persen pada Februari 2009 setelah Pemerintah Indonesia mengklarifikasi peraturan investasi asing, di mana saham sebuah perusahaan penyedia komunikasi telepon bergerak (seluler) boleh dimiliki pihak asing hingga 65 persen. Sementara itu, perusahaan penyedia komunikasi telepon tetap, sahamnya hanya boleh dimiliki pihak asing sebesar 45 persen.
 
Indosat saat ini menjadi operator seluler terbesar ketiga dengan 59,7 juta pelanggan, setelah Telkomsel dan XL Axiata, yang masing-masing memiliki 132,65 juta dan 68,5 juta pelanggan pada kuartal pertama 2014.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.