Nilai Sebuah Kegagalan di Silicon Valley

Kompas.com - 07/07/2014, 17:05 WIB
Garasi yang digunakan sebagai kantor pertama Google di Silicon Valley. Yansen KamtoGarasi yang digunakan sebagai kantor pertama Google di Silicon Valley.
EditorWicak Hidayat

Penulis: Yansen Kamto*

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com - Google I/O selalu menghadirkan banyak sesi diskusi maupun workshop yang sangat menarik dan tentunya juga memberi banyak pengetahuan baru. Salah satu sesi yang saya ikuti adalah diskusi panel berjudul " Silicon Valley Startups and Incubators vs Global Ones".

Sesi diskusi ini dimoderasi oleh Amir Shevat (Google) dan diikuti oleh panelis yang terdiri dari Aaron Haris (Y Combinator), Eden Shochat (Aleph VC), Fadi Bishara (Blackbox Connect), dan Roy Glasberg (Google).

Diskusi tersebut intinya membahas apa saja perbedaan startup yang berasal dari Silicon Valley dengan startup di luar Silicon Valley.

Satu kata kunci dari diskusi ini adalah "permission to fail". Ekosistem yang terbentuk di Silicon Valley memberikan semacam "izin" untuk startup melakukan kesalahan, bahkan hingga menjadi gagal. Startup yang gagal tidak kemudian dicibir apalagi dipermalukan, karena mereka percaya bahwa sukses itu dimulai dari gagal.

Tentu saja konteks "gagal" di sini bukanlah sebuah tujuan bagi para pendiri startup di Silicon Valley. Konteksnya lebih kepada mereka memahami kegagalan sebagai bagian dari sebuah proses membangun mimpi mereka. Mereka berpikir melakukan banyak hal dengan lebih cepat, seperti me-release versi beta dari produk mereka lebih cepat, dengan tujuan untuk mendapatkan feedback dari beta tester maupun dari calon user.

Jika pada akhirnya mereka gagal ataupun melakukan kesalahan, mereka akan mempelajari dengan cepat dan menganalisa apa yang menjadi penyebab, hingga pada akhirnya mereka bisa melakukan iteration (perbaikan) pada produknya dan pivot ke arahan produk yang berikutnya. Fail fast, fail forward.

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong mengapa startup di Silicon Valley menjadi lebih berani dalam mengambil resiko, mencoba hal baru, melakukan sesuatu yang agak gila, hingga melahirkan inovasi.

Semua ini akhirnya menjadikan Silicon Valley menjadi tempat lahir bagi banyak startup kelas dunia, di mana entrepreneur muda dengan persistensi dan determinasi menjadi "pecundang sementara" dan menjadi pemenang pada akhirnya.

Ini hanya satu dari beberapa karakteristik startup asal Silicon Valley. Di tulisan berikutnya, saya akan membahas perbedaan lainnya yang semoga bisa bermanfaat untuk startup di Tanah Air.

Sekali lagi saya menekankan bahwa Silicon Valley adalah sebuah semangat, sebuah pola pikir di mana kegagalan dihargai dan menjadi pecutan untuk menjadi lebih baik dan terus berkarya.

Tulisan ini merupakan bagian dari catatan perjalanan selama 10 hari di Amerika Serikat. Yansen Kamto adalah pendiri dan Chief Executive dari Kibar, sebuah perusahaan konsultan teknologi dengan misi mengibarkan talenta berbasis industri teknologi di Indonesia. Seluruh biaya perjalanan di Amerika Serikat dibiayai sepenuhnya oleh Kibar.

Tulisan ini merupakan bagian dari catatan perjalanan selama 10 hari di Amerika Serikat. Yansen Kamto adalah pendiri dan Chief Executive dari Kibar, sebuah perusahaan konsultan teknologi dengan misi mengibarkan talenta berbasis industri teknologi di Indonesia. Seluruh biaya perjalanan di Amerika Serikat dibiayai sepenuhnya oleh Kibar.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X