Sebulan, Game Horor Indonesia Dulang Rp 1 Miliar - Kompas.com

Sebulan, Game Horor Indonesia Dulang Rp 1 Miliar

Kompas.com - 17/07/2014, 09:04 WIB
pxlbyte
 

KOMPAS.com - Kamis, 15 Mei 2014, pengembang lokal asal Bandung, Digital Happiness resmi merilis game horor buatannya, DreadOut. Permainan komputer tersebut sudah bisa diunduh melalui platform distribusi digital Steam, pada malam Jumat Kliwon itu.

Dua bulan berselang, bagaimana kiprah penjualan DreadOut? Ternyata cukup menggembirakan. Direktur Proyek DreadOut Rachmad Imron mengaku mencatat penjualan sebanyak 10.000 kopi pada bulan pertama, dengan harga satuan sebesar 14.99 dollar AS.

“Dari situ penghasilan kotornya sekitar Rp 1 miliar,” kata Imron ketika ditemui usai acara Intel Media Gathering di Jakarta, Rabu (16/7/2014). Dia menambahkan bahwa penjualan Dreadout mengalami penurunan pada bulan kedua, namun angka total unduhan masih terus bergerak naik hingga kini hampir mencapai 15.000 kopi.

Walau sekilas terdengar besar, Imron mengaku pihaknya mesti pintar-pintar mengalokasikan dana agar studio Digital Happiness bisa terus hidup dan berkarya. “Kami  harus berpikir panjang ke depannya, karena ada biaya pengembangan dan pengerjaan proyek lain.”

DreadOut sendiri merupakan game petualangan dengan genre horor. Tokoh utamanya adalah seorang cewek SMA bernama Linda yang terdampar di sebuah kota tanpa nama bersama teman sekolah dan gurunya. Mereka harus menyelesaikan misteri dan berhadapan dengan para hantu yang bergentayangan di kota tersebut agar bisa keluar hidup-hidup.

Imron berharap DreadOut akan terus bisa memberi pemasukan selama beberapa waktu ke depan, sesuai dengan perkiraan life cycle produk itu. “Kalau dulu dua tiga tahun, sekarang ini mungkin masih bisa satu atau dua tahun,” imbuhnya.

Setan lokal

Tema horor sengaja dipilih oleh Digital Happiness karena dinilai akrab dengan sebagian besar masyarakat Indonesia yang pasti pernah mendengar cerita-cerita seram yang melibatkan “setan lokal” seperti pocong dan kuntilanak.

Kendati mengusung tema lokal, menurut Imron, sebagian besar pembeli DreadOut justru datang dari luar negeri. Angka unduhan terbesar berasal dari Amerika Serikat, disusul Rusia dan Jerman, sementara Indonesia hanya menempati urutan ke enam.

Imron menduga hal ini berkaitan dengan muatan berupa segala macam dedemit ala Indonesia yang masih asing bagi audience luar negeri sehingga menarik. “Mungkin mereka sudah bosan dengan zombie, sementara hantu-hantu kita cenderung supranatural,” katanya.

Untuk membantu pemain agar lebih menikmati jalan cerita, DreadOut menyediakan “ensiklopedi hantu” yang berisi penjelasan singkat mengenai masing-masing makhluk gaib tersebut. Tokoh hantu baru akan ditambahkan ke dalam ensiklopedi begitu berhasil dikalahkan oleh pemain.

Di samping melalui Steam, game DreadOut juga dipasarkan melalui sejumlah kanal lain. Digital Happiness berencana merilis versi “fisik” alias game DreadOut yang dikemas di dalam cakram keras mulai tahun 2015 mendatang,

Bagaimana dengan pembajakan yang marak terjadi di Indonesia? Imron mengaku tidak risau. “Ah, jangankan versi fisik, versi torrent (bajakan untuk diunduh) dari DreadOut saja langsung keluar hanya dalam waktu tiga jam setelah game-nya rilis di Steam. Jadi pasti terjadi, tapi ya sudah,” ujar Imron pasrah.

Saat ini pihak Digital Happiness sedang menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Intel, namun Imron belum mengetahui seperti apa bentuk kemitraaan itu nantinya. “Kami akan lihat dulu apa yang bisa dilakukan, misalnya dukungan equipment atau yang lain,” pungkas Imron.


PenulisOik Yusuf
EditorWicak Hidayat

Close Ads X