Teknologi Komunikasi Kita, dari Api Unggun hingga Ponsel Pintar

Kompas.com - 25/09/2014, 08:09 WIB
Telepon umum koin yang tampak tidak terawat dan gagangnya telah hilang terpasang di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Senin (30/12). KOMPASTelepon umum koin yang tampak tidak terawat dan gagangnya telah hilang terpasang di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Senin (30/12).
Penulis Oik Yusuf
|
EditorWicak Hidayat

Satelit mempermudah hubungan antar daerah di Indonesia yang berbentuk kepulauan. Palapa tidak hanya bisa digunakan untuk meneruskan sinyal telepon dari satu wilayah ke yang lain, melainkan juga memancarkan gelombang televisi dan radio ataupun informasi dalam bentuk lain seperti faksimili, termasuk juga keperluan perbankan.

Palapa A1 digantikan oleh satelit-satelit penerus, yakni seri B, C, dan terakhir Palapa D yang menyusul diluncurkan ke orbit pada tahun-tahun berikutnya.

Kapanpun dan di manapun

Indonesia adalah salah satu negara pertama yng mengadopsi teknologi seluler versi komersil lewat NMT (Nordic Mobile Telephone) pada 1984. Ketika itu, pada periode 1985-1992, telepon seluler alias ponsel sudah mulai beredar di Indonesia.

Tapi, jangan berpikir bentuknya seperti ponsel langsing masa kini. Model-model ponsel pertama yang dipasarkan tak ubahnya telepon rumah yang bongsor dengan bobot mencapai kisaran setengah kilogram. Banderolnya sangat mahal, di atas Rp 10 juta per unit pada dekade 80-an. Harga dan ukurannya jelas tak muat apalagi nyaman di kantong.

Pun begitu, kehadiran ponsel menandai perubahan penting dalam era telekomunikasi, karena para pemiliknya bisa dihubungi kapanpun dan di mana pun, tak perlu lagi berdiam di depan pesawat telepon fixed line.

Beberapa tahun setelah masa awal seluler, menjelang akhir 1993, PT Telkom memulai proyek percontohan seluler digital Global System for Mobile (GSM) di pulau Batam dan Bintan.

Dibanding teknologi seluler sebelumnya, GSM memiliki kelebihan berupa digunakannya chip Subscriber Identity Module (SIM card) yang relatif aman dari penggandaan dan penyadapan, di samping memungkinkan pelanggan berganti handset tanpa mengubah nomer telepon.

Tahun berikutnya, pada 1994, PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) memulai kiprah sebagai operator GSM pertama di Indonesia, dengan wilayah operasi Jakarta dan sekitarnya. PT Telkom segera menyusul dengan mendirikan anak usaha bernama Telkomsel.

Pada penghujung 1996, operator seluler ketiga di Indonesia didirikan, yaitu PT Excelcomindo Pratama (kini XL Axiata). Hingga kini, ketiganya tetap menduduki tangga teratas operator seluler Indonesia dengan jumlah pelanggan mencapai 270 juta pada kuartal pertama 2014.

Era internet mobile

Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata serentak meggelar telekomunikasi seluler generasi ketiga (3G) secara komersil pada akhir tahun 2006.

Teknologi ini antara lain meningkatkan kecepatan koneksi internet broadband pada ponsel yang bisa mencapai hitungan megabit per detik. Cukup kencang untuk streaming video dan aneka konten lain dari jaringan internet.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.