Kompas.com - 27/10/2014, 14:43 WIB
ilustrasi shutterstockilustrasi
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Telekomunikasi seluler generasi keempat, lebih akrab dikenal sebagai 4G, tak lama lagi bakal hadir di Indonesia. Ibaratnya tamu, teknologi ini sudah mengetuk pintu.

Nah, sebelum pintu dibukakan dan sang tamu dipersilakan masuk, ada baiknya kita melihat seperti apa sebenarnya yang diharapkan dari kehadiran 4G di Indonesia.

Seperti juga teknologi telekomunikasi lainnya, yang saat  ini sudah ada maupun belum ada di Indonesia, hal utama yang diharapkan adalah kemampuan komunikasi yang lebih baik dan akses pada informasi.

Akses informasi adalah prasyarat utama untuk meraih keunggulan dalam ekonomi global saat ini. Bayangkan, seorang petani di desa yang memiliki informasi terkini dan real-time soal harga komoditas hasil taninya. Setidaknya ia bisa punya gambaran nilai dari hasil panennya nanti.

Akses informasi juga berguna bagi para pekerja di kota. Misalnya, untuk mengetahui kemacetan, informasi transportasi publik dan lainnya yang ia butuhkan sehari-hari.

Tapi memang akses informasi melalui jaringan internet belum mencakup seluruh penduduk Indonesia. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan jumlah pengguna internet baru mencapai 82 juta dari 250-an juta jumlah penduduk keseluruhan di Indonesia.

Di sisi lain, dengan 300-an juta pelanggan mobile (nomor ponsel) di Indonesia, ada pertumbuhan yang sangat pesat di sisi telekomunikasi mobile. Adopsi mobile broadband pun dilaporkan mencapai 50 persen dari pelanggan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Artinya, 4G -- sebagai kelanjutan dari 3G dan 2G -- punya potensi untuk memberikan akses informasi pada banyak pengguna layanan telekomunikasi seluler.

Jika di Indonesia 4G baru "mengetuk pintu", beberapa negara di dunia sudah mulai menjalankan 4G. Menurut OpenSignal, pada Februari 2014 terdapat 76 negara di dunia yang sudah menerapkan 4G LTE.

Beberapa negara memiliki ketercakupan yang lebih baik dari negara lainnya, Korea Selatan, misalnya, mencapai 91 persen. Disusul kemudian oleh Swedia (88%), Hong Kong (74%) dan Jepang (68%).

Angka ketercakupan di atas mengacu pada "Time On LTE", yaitu berapa persen waktu rata-rata pelanggan, saat tersambung ke jaringan, mendapatkan sinyal 4G LTE.

OpenSignal juga menyebutkan, Australia sebagai negara dengan kecepatan rata-rata tercepat, di angka 24,5 Mbps. Selain itu, salah satu operator di Brasil jadi yang tercepat di dunia dengan kecepatan 27,8 Mbps.

Namun angka kecepatan itu ternyata bisa mengecoh. Karena, data "Time On LTE" menunjukkan bahwa Brasil masih ada di kisaran 45 persen, sedangkan Australia di 58 persen.
 
Hal itu menunjukkan, meski kecepatannya tinggi, namun sebaran jaringannya belum merata. Buat apa ada jaringan cepat, jika tidak bisa diakses setiap saat

Ini berbeda dengan Korea Selatan, yang memiliki ketercakupan 91 persen. Kecepatan rata-rata di Korea Selatan memang lebih rendah dari dua negara tercepat tadi, "hanya" 18,6 Mbps. Tapi, kalau kecepatan itu bisa dirasakan setiap saat, bukankah jadinya lebih baik?Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.