Kompas.com - 28/11/2014, 13:09 WIB
Sandro Rahansyah (kiri) di booth Babacucu dalam ajang Startup Asia Jakarta 2014 yang diadakan di Menara Bapindo, Jakarta, 26-27 November 2014. Wicak Hidayat/KompasTeknoSandro Rahansyah (kiri) di booth Babacucu dalam ajang Startup Asia Jakarta 2014 yang diadakan di Menara Bapindo, Jakarta, 26-27 November 2014.
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com - Sekilas nama situsnya terdengar lucu, Babacucu.com. Ternyata itu merupakan singkatan dari Bagi-bagi cuma-cuma, sesuai dengan fungsi situs itu yang menyediakan barang gratisan.

Nah, bagaimana situs itu bisa menyediakan barang gratisan? Awalnya, kata Sandro Rahansyah dari Babacucu, situs itu difokuskan untuk menyediakan platform bagi yang mau berbagi barang dengan orang lain.

"Namun sekitar tiga bulan lalu (Agustus 2014-red.) kami melakukan pivot dan mulai fokus pada pengguna bisnis," ujar Sandro saat ditemui KompasTekno di ajang Startup Asia 2014 di Jakarta, Rabu (26/11/2014).

Pivot adalah istilah untuk perubahan fokus perusahaan yang biasa digunakan di kalangan startup digital. Saat melakukan pivot biasanya ada aspek yang berubah dari produk atau layanan yang mereka hadirkan.

Dalam hal ini Babacucu berubah fokus dari layanan berbagi antar sesama pengguna (peer to peer) atau komunitas menjadi layanan bagi perusahaan besar yang ingin membagikan produknya secara cuma-cuma.

Tapi, apakah ada perusahaan yang mau? Sandro mengatakan membagikan produk gratis biasa dilakukan perusahaan, misalnya saat hendak menghadirkan produk baru.

"Platform ini bisa digunakan untuk membagikan sample produk ke pelanggan yang tepat. Daripada mereka bagi-bagi sample secara acak, lewat platform ini, mereka yang meminta sample sudah pasti memang tertarik untuk mendapatkan produknya," kata Sandro.

Kemudian, lanjutnya, pengguna yang meminta sample itu juga bisa diminta untuk mengisi survey terlebih dahulu. Data survey itu tentu bisa bermanfaat bagi perusahaan.

Mekanisme di Babacucu memungkinkan pemberi barang untuk mengendalikan siapa saja pengguna yang diberikan produk gratisan itu. Sehingga bisa saja tidak semua pengguna mendapatkannya, baik lewat metode 'siapa cepat dia dapat', 'random sampling' atau lewat kriteria tertentu.

Menurut Sandro, Babacucu bisa dimanfaatkan oleh produsen produk tertentu maupun penyedia jasa. Dari sisi pengguna diharapkan senang dengan adanya barang gratisan, sedangkan dari sisi perusahaan bisa melakukan sampling dan survey.

"Selain itu, tentunya ada good karma untuk bisnis yang mau berbagi," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.