CEO XL: Kita yang Bangun, Mereka yang Dapat Uang

Kompas.com - 12/12/2014, 10:49 WIB
Presiden Direktur dan CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi Oik Yusuf/Kompas.comPresiden Direktur dan CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com - Para pemain Over The Top (OTT) atau penyedia layanan online populer seperti jejaring sosial, mesin pencari, hingga instant messenger dianggap mengeruk untung lewat internet Indonesia tanpa mengeluarkan sejumlah besar investasi untuk membangun jaringan.

Keadaan yang kurang berimbang ini menjadi uneg-uneg yang diutarakan oleh operator seluler Indonesia kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Kerja, Rudiantara.

“Masak, kita yang bangun (jaringan) tapi mereka yang dapat uang. Kalau kita tidak invest kan OTT juga tidak dapat akses,” keluh Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi ketika berbicara dalam Forum Indotelko di Balai Kartini, Jakarta (11/12/2014).

Menurut Hasnul, OTT mengambil keuntungan dari aneka konten yang disalurkan melalui jaringan yang dibangun oleh operator seluler. Caranya bisa bermacam-macam. Hasnul mencontohkan mesin pencari Google yang menawarkan hasil pencarian berbayar.

“Kalau Anda searching ‘baju muslim’ di Google, misalnya, yang muncul di urutan-urutan teratas itu adalah mereka yang membayar sejumlah uang ke Google,” kata Hasnul.

Untuk menyiasati OTT, Hasnul mengatakan pihaknya menyisipkan interstitial ads alias iklan serobot. Tetapi cara ini diprotes banyak pihak lantaran mengalihkan alamat IP OTT yang dituju oleh pengguna internet ke laman iklan.

“Padahal kami yang bikin jalan segala macam, eh pasang iklan malah dimarahi. Itu Google tidak dimarahi,” lanjut Hasnul.

Menanggapi keluhan operator seluler, Rudiantara menawarkan untuk melakukan mediasi ke praktisi OTT, seperti Google, Facebook, Path, dan lainnya. Tetapi dia menambahkan bahwa keluhan operator seluler harus didampingi dengan data-data riil soal penggunaan jaringan oleh OTT, misalnya soal mana saja yang memiliki trafik atau konsumsi bandwidth besar.

Go by the numbers, cek secepatnya. Tolong kumpulkan semua data, nanti saya eksekusi,” ujar Rudiantara. “Mudah-mudahan nanti sebelum Maret 2015 sudah tidak ada lagi cerita soal OTT ini lah.”

Adapun soal iklan serobot, Rudiantara menyerahkan ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk melakukan mediasi antara operator seluler dengan pihak-pihak yang merasa dirugikan.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X