Doktor Jepang Ciptakan Aplikasi Android "Tsunami Aceh"

Kompas.com - 12/01/2015, 13:16 WIB
Dr. Nishi Yoshimi, peneliti dan pengembang aplikasi Aceh Tsunami Mobile Museum (ATMM) dan Menjejaki Kenangan (Memory Hunting) yang berbasiskan Android dariCenter for Integrated Area Studies (CIAS), Universitas Kyoto, Jepang. Nurulloh/KOMPAS.comDr. Nishi Yoshimi, peneliti dan pengembang aplikasi Aceh Tsunami Mobile Museum (ATMM) dan Menjejaki Kenangan (Memory Hunting) yang berbasiskan Android dariCenter for Integrated Area Studies (CIAS), Universitas Kyoto, Jepang.
Penulis Nurulloh
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com – Berlatar belakang peneliti bencana Tsunami Aceh dan tinggal di Aceh saat melakukan riset, dua peneliti asal Jepang mengembangkan dua aplikasi seputar negeri Serambi Mekah tersebut.

Dr. Yamamoto Hiroyuki dan Dr. Nishi Yoshimi membuat aplikasi waspada bencana dan wisata virtual Tsunami Aceh dan aplikasi untuk menjejaki sejarah masa lalu.

Kedua aplikasi yang berbasiskan sistem operasi Android tersebut diberi nama Aceh Tsunami  Mobile Museum (ATMM) dan Menjejaki  Kenangan (Memory Hunting).

Yamamoto dan Nishi adalah dua doktor dari Jepang yang tergabung dalam Center for Integrated Area Studies (CIAS), Universitas Kyoto, Jepang.

Aplikasi ATMM yang dikembangkan bersama-sama dengan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala, Aceh merupakan aplikasi yang ditujukan sebagai pendidikan siaga bencana dan wisata Tsunami Aceh.

Dengan menggunakan teknologi augmented reality (AR), ATMM menyajikan perubahan dan perkembangan kota Banda Aceh dan sekitarnya pasca-Tsunami dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

“Kami merekam tiap perkembangan di Aceh selama 10 tahun terakhir,” kata Nishi saat ditemui Kompas.com di Jakarta.

Dia juga menambahkan bahwa aplikasi tersebut dapat dijadikan sebagai pemandu wisata virtual bagi yang ingin mencari informasi seputar bencana Tsunami di dalam museum-museum Tsunami yang ada di Aceh serta foto keadaan beberapa landmark Aceh pasca-Tsunami dalam kurun waktu 10 tahun.

Sebagai pemimpin tim riset, Yamamoto juga mengatakan hal yang senada. Dia berharap dengan adanya aplikasi ini dapat berbagi pengetahuan tentang bencana kepada siapa pun.

“Untuk mengurangi korban bencana alam yang akan datang dengan senantiasa memperingatkan bencana alam yang dahsyat dan mewariskan pengalaman serta pengetahuan bencana alam kepada siapa pun,” jelas Yamamoto melalui e-mail yang dikirim kepada Kompas.com.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X