Go-Jek, Antar Ular Piton dan Bule "Ngojek" Jakarta-Bali

Kompas.com - 21/01/2015, 20:08 WIB
Nadiem Makarim, pendiri dan CEO Go-Jek Oik Yusuf/ Kompas.comNadiem Makarim, pendiri dan CEO Go-Jek
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi
Nadiem Makarim, pendiri dan CEO Go-Jek

JAKARTA, KOMPAS.com — Tukang ojek tak perlu menggantungkan nasib pada tempat mangkal atau berkeliaran mencari penumpang di pinggir jalan dari pagi hingga larut malam. Inilah yang terlintas dalam benak Nadiem Makarim ketika mendirikan Go-Jek, empat tahun lalu.

Sedari dulu Nadiem adalah pengguna setia ojek. Jasa transportasi roda dua tersebut menjadi andalannya dalam menembus macet lalu lintas Jakarta. "Saya punya mobil, tapi saya tinggal di rumah saja," katanya dalam sebuah acara konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/1/2015).

Lantaran sering naik ojek, Nadiem yang lulus dari jurusan bisnis, Universitas Harvard, AS, ini pun menjadi akrab dengan pengendara ojek langganannya. Dari obrolan-obrolan sepanjang perjalanan, dia mengetahui seluk-beluk perjuangan tukang ojek.

"Dia kerja 14 jam, dari jam 8 pagi sampai 10 malam tidak ketemu anak istri. Itu pun cuma dapat penumpang 4 kali dalam sehari," ujarnya. Merasa prihatin dengan nasib para tukang ojek, dia kemudian berusaha melakukan sesuatu.

Kemudian berdirilah PT Go-Jek Indonesia. Perusahaan yang didirikan Nadiem bersama rekannya Michaelangelo Moran ini memiliki produk berupa layanan "ojek panggilan" Go-Jek.

Dengan menjadi perantara yang menghubungkan para pengendara ojek dan pelanggan, Nadiem berharap Go-Jek bisa membantu kedua belah pihak yang terlibat dalam jasa transportasi ojek tersebut. Hal ini dilandasi pula oleh pengamatannya bahwa dalam bisnis ojek terdapat semacam "inefisiensi pasar".

"Sering kali saat tidak dibutuhkan ada banyak (ojek) yang nongkrong, ketika butuh malah tidak ada," katanya.

Pakai aplikasi

Usaha PT Go-Jek Indonesia telah dirintis sejak 2011, tetapi baru sekitar dua minggu lalu perusahaan Nadiem CS itu meluncurkan aplikasi mobile pemesanan ojek untuk smartphone Android dan iPhone.

Order ojek pun menjadi lebih mudah dibanding sebelumnya ketika Go-Jek mengandalkan call center untuk menghubungkan pelanggan dengan pengendara ojek.

"Dulu itu, untuk cari pengendara yang available saja lamanya bisa 15 menit lewat call center karena ditelepon satu per satu. Nah, sekarang 'manusia' di tengah sudah dihilangkan sehingga bisa dipercepat," ujar Nadiem.

Gojek
Aplikasi pemesanan ojek motor Gojek.

Cukup pesan lewat aplikasi, pengendara Go-Jek terdekat pun akan menghampiri calon penumpang dalam hitungan menit karena aplikasi ini turut dilengkapi kemampuan location service berbasis GPS.

Pelanggan bisa memantau posisi pengendara yang menanggapi order, sementara pengendara bisa melihat order yang masuk serta lokasi pemesan untuk kemudian ditanggapi.

Go-Jek pun turut memberikan cicilan smartphone kepada para pengendara ojeknya dengan harga khusus yang lebih murah dari harga pasar. Mereka turut dilatih untuk memakai ponsel pintar dan aplikasi Go-Jek yang terdapat di dalamnya.

Hal ini menimbulkan kesulitan tersendiri karena, menurut Nadiem, sekitar 80 persen pengendara ojek yang ditemui pihaknya sama sekali belum pernah menyentuh smartphone, apalagi memakai aplikasi.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X