Kompas.com - 16/02/2015, 20:02 WIB
Kelompok peretas asal Rusia mengenali situs-situs yang rentan terhadap serangan melalui jaringan komputer yang terinfeksi malware. BBCKelompok peretas asal Rusia mengenali situs-situs yang rentan terhadap serangan melalui jaringan komputer yang terinfeksi malware.
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi
Ilustrasi

KOMPAS.com - Inilah salah satu tindak pencurian uang dari bank dengan nilai kerugian terbesar, dilakukan melalui dunia cyber pula. Sebuah kelompok kriminal cyber dilaporkan meretas sistem komputer 100 bank di 30 negara dan berhasil membawa kabur uang sejumlah 300 juta dollar AS atau lebih dari Rp 3,8 triliun.

Sebagaimana dirangkum Kompas Tekno dari Cnet, Senin (16/2/2015), kelompok peretas yang dinamai "Cabarnak Cybergang" karena memakai malware bernama Cabarnak itu telah melakukan tindak kejahatannya sejak 2013 dan mencuri uang diam-diam dengan berbagai cara.

Laporan keamanan dari firma sekuriti Kaspersky yang menyelidiki kejadian ini menyatakan bahwa kelompok hacker yang anggotanya datang dari berbagai negara tersebut menggunakan malware untuk menyadap informasi dari para pegawai bank, termasuk dengan mengambil screenshot, merekam ketikan keyboard, dan mengamati aktivitas sehari-hari.

"Tujuan (para hacker) adalah untuk meniru aktivitas mereka (pegawai bank)," kata Sergey Glovanov dari Kaspersky. Dengan meniru prosedur pegawai bank dalam melakukan transaksi keuangan, maka pencurian yang dilakukan bisa dibuat seolah-olah transaksi biasa.

Kegiatan mata-mata dilakukan oleh para hacker dengan sabar selama berbulan-bulan, demi bisa meniru kelakuan sasarannya dan tidak menimbulkan kecurigaan.

Setelah menemukan dan menginfeksi komputer pegawai bank yang bertanggung jawab mengurus sistem transfer, para hacker mencuri uang dengan berbagai cara. Uang ditransfer ke rekening palsu di bank lain, dipindahkan ke akun palsu melalui e-payment, serta memerintahkan ATM di lokasi dan waktu tertentu untuk mengeluarkan uang kas.

"Mungkin ini adalah serangan paling canggih yang pernah terjadi, dalam hal taktik dan metode yang dilakukan para kriminal cyber untuk melakukan aksinya secara diam-diam," ujar manajer Kaspersky untuk wilayah AS, Chris Doggett.

Kebanyakan bank yang disasar berlokasi di Rusia, namun para hacker juga menyasar sejumlah bank di wilayah Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, dan Jepang. Meski telah berlangsung sejak dua tahun lalu, tindak pencurian uang ini diperkirakan masih berlangsung hingga sekarang. Namun, dari ratusan bank dalam daftar korban, belum ada yang mengakui telah kebobolan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNET

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.